Thursday, November 5, 2026
Metapos
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri

AS Kembali Sita Kapal di Perairan Venezuela, Tekanan Era Trump Terhadap Caracas Meningkat

Desti Dwi Natasya by Desti Dwi Natasya
22 December 2025
in Internasional
AS Kembali Sita Kapal di Perairan Venezuela, Tekanan Era Trump Terhadap Caracas Meningkat

Metapos.id, Jakarta – Amerika Serikat kembali menyita sebuah kapal tanker di lepas pantai Venezuela pada Sabtu waktu setempat. Aksi ini, menurut pejabat AS yang mengetahui langsung operasi tersebut, menjadi sinyal lanjutan meningkatnya tekanan pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap Caracas.

 

BACA JUGA

Trump Puji Haley Stevens Usai Dukung Kandidat Senat Republik

Trump Telepon Netanyahu, Ketegangan Iran Kembali Meningkat

Penyitaan ini merupakan insiden kedua yang tercatat sepanjang bulan ini. Sebelumnya, pada 10 Desember, AS menyita kapal tanker besar bernama Skipper yang masuk dalam daftar sanksi karena dikaitkan dengan Iran. Langkah-langkah ini menyusul kebijakan Trump yang mengumumkan “blokade” terhadap kapal-kapal tanker minyak yang keluar dan masuk wilayah Venezuela.

 

Berbeda dengan kasus sebelumnya, kapal yang disita kali ini tidak termasuk dalam daftar sanksi Amerika Serikat. Pejabat AS menyebut proses penyitaan berlangsung tanpa perlawanan dari awak kapal. Tanker berbendera Panama tersebut diketahui mengangkut minyak asal Venezuela dan diduga tengah menuju pasar Asia.

 

Operasi dilakukan di perairan internasional dan dipimpin oleh Penjaga Pantai Amerika Serikat (US Coast Guard) dengan dukungan militer AS. Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Kristi Noem, yang membawahi US Coast Guard, turut membagikan video operasi tersebut melalui media sosial. Rekaman berdurasi sekitar tujuh menit itu memperlihatkan helikopter melayang rendah di atas kapal tanker saat proses penindakan berlangsung.

 

Dalam unggahannya, Noem menyebut penyitaan dilakukan dalam “operasi sebelum fajar” dengan dukungan Departemen Pertahanan. Ia juga menegaskan bahwa kapal tersebut terakhir kali berlabuh di Venezuela. “Amerika Serikat akan terus memburu pergerakan ilegal minyak yang terkena sanksi dan digunakan untuk mendanai narkoterorisme di kawasan,” tulisnya.

 

Dari pihak Venezuela, respons keras langsung disampaikan. Menteri Luar Negeri Venezuela, Yvan Gil, mengungkapkan bahwa Iran menyatakan kesiapan bekerja sama untuk menghadapi apa yang ia sebut sebagai “aksi pembajakan” dan “terorisme internasional” oleh Amerika Serikat. Melalui kanal Telegram, Gil mengatakan dirinya telah berbicara via telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, guna membahas hubungan bilateral dan perkembangan terbaru di kawasan Karibia, termasuk penyitaan kapal yang mengangkut minyak Venezuela.

 

Menurut Gil, Teheran menyatakan solidaritas penuh kepada Venezuela dan menawarkan kerja sama di berbagai bidang untuk menghadapi tindakan AS yang dinilai melanggar hukum internasional.

 

Penyitaan kapal terbaru ini, ditambah pernyataan Trump terkait kemungkinan operasi darat di wilayah Venezuela, semakin memperbesar tekanan terhadap pemerintahan Presiden Nicolás Maduro. Tekanan tersebut secara langsung menargetkan sektor minyak, yang menjadi tulang punggung ekonomi Venezuela dan sebelumnya telah terpukul oleh sanksi baru pada awal tahun.

 

Dalam beberapa bulan terakhir, AS juga meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Karibia dengan mengerahkan ribuan personel serta satu gugus kapal induk. Washington mengklaim langkah tersebut ditujukan untuk memerangi perdagangan narkoba dan migrasi ilegal, namun banyak pihak menilai kebijakan ini merupakan bagian dari strategi lebih luas untuk melemahkan Maduro.

 

Militer AS dilaporkan telah menewaskan 104 orang dan menghancurkan 29 kapal yang diduga terlibat dalam jaringan perdagangan narkoba. Pemerintahan Trump menyebut operasi tersebut sebagai upaya menjaga keamanan regional, meski tujuan penggulingan Maduro kerap disebut sebagai agenda utama Gedung Putih.

 

Trump juga secara terbuka menyoroti potensi minyak Venezuela, yang menurutnya seharusnya dapat diakses Amerika Serikat jika terjadi perubahan pemerintahan. Industri migas Venezuela saat ini dikuasai perusahaan negara Petróleos de Venezuela (PDVSA). Chevron menjadi satu-satunya perusahaan AS yang masih beroperasi di negara tersebut melalui pengecualian sanksi, dengan skema pembayaran sebagian hasil produksi kepada PDVSA.

 

Meski memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, produksi Venezuela masih jauh dari kapasitas maksimal akibat tekanan sanksi internasional. Sebagian besar ekspor minyak negara itu kini dialihkan ke China.

 

Pemerintah Venezuela mengecam keras kebijakan blokade AS dan menyebutnya sebagai tindakan “sembrono dan berbahaya.” Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, menegaskan bahwa negaranya menolak penyitaan dan pembajakan kapal-kapal swasta yang mengangkut minyak Venezuela. Ia menyatakan Caracas siap membawa isu tersebut ke Dewan Keamanan PBB, berbagai organisasi multilateral, serta forum internasional lainnya.

Tags: ASDonald TrumpMetapos.idPerairan VenezuelaSita Kapal
Previous Post

Kasi Datun Kejari Hulu Sungai Utara Melarikan Diri Saat OTT KPK, Petugas Selamat

Next Post

AI Masuk Proses Rekrutmen, Bukannya Efisien Justru Bikin Perusahaan dan Pelamar Sama-Sama Kewalahan

Related Posts

Trump Puji Haley Stevens Usai Dukung Kandidat Senat Republik
Internasional

Trump Puji Haley Stevens Usai Dukung Kandidat Senat Republik

3 November 2026
Trump dan Netanyahu dilaporkan membahas potensi serangan baru ke Iran. Pentagon disebut telah memetakan target, sementara Teheran menyiapkan respons.
Internasional

Trump Telepon Netanyahu, Ketegangan Iran Kembali Meningkat

2 November 2026
Iran Ajukan 7 Syarat Sebelum Kembali Berunding dengan AS
Internasional

Iran Ajukan 7 Syarat Sebelum Kembali Berunding dengan AS

2 November 2026
Iran menetapkan Royal Navy, Royal Air Force, dan MI6 sebagai teroris. Keputusan ini disebut sebagai respons atas kebijakan Inggris terhadap IRGC.
Internasional

Ketegangan Meningkat, Iran Sasar Institusi Militer Inggris

2 November 2026
Korea Utara menguji hulu ledak bom tandan untuk rudal balistik taktis. Pyongyang mengklaim senjata tersebut mampu menjangkau area 13 hektare.
Internasional

Bom Tandan Korea Utara Diklaim Sapu Area 13 Hektare

2 November 2026
Trump Sebut AS Bisa Serang Situs Nuklir Iran dalam 10 Menit
Internasional

Trump Sebut AS Bisa Serang Situs Nuklir Iran dalam 10 Menit

1 November 2026
Next Post
AI Masuk Proses Rekrutmen, Bukannya Efisien Justru Bikin Perusahaan dan Pelamar Sama-Sama Kewalahan

AI Masuk Proses Rekrutmen, Bukannya Efisien Justru Bikin Perusahaan dan Pelamar Sama-Sama Kewalahan

  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini