Thursday, June 11, 2026
Metapos
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Galeri
  • Home
  • Nasional
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Galeri
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Galeri

Indef Sebut BI Harus Segera Pangkas Suku Bunga Acuan

Rahmat Herlambang by Rahmat Herlambang
13 September 2024
in Ekbis
Kredit Loyo Akibat Suku Bunga Naik? Tenang, BI Siapkan Insentif Ini

Jakarta , Metapos.id – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai Bank Indonesia (BI) perlu untuk segera memangkas suku bunga acuan atau BI-Rate.

Pasalnya, suku bunga acuan BI saat ini terbilang berada pada level yang tinggi, yakni sebesar 6,25 persen. Padahal, kondisi perekonomian mulai menunjukkan pergerakan yang lebih baik.

BACA JUGA

Pendapatan Tembus Rp84,64 Triliun, ANTAM Tebar Dividen Rp5,04 Triliun

Bukan Rp16.250 per Liter, Segini Harga Asli Pertamax Tanpa Campur Tangan Pemerintah

“Karena suku bunga kita tinggi serta tanda-tanda global yang dikhawatirkan Pemerintah dan BI makin mereda, kita butuh penurunan suku bunga saat ini,” ujar Direktur Pengembangan Big Data Indef Eko Listiyanto dalam diskusi virtual Indef, Kamis 12 September.

Dorongan Indef agar Pemerintah menurunkan suku bunga utamanya dipengaruhi oleh tiga urgensi.

Pertama, sektor riil membutuhkan sinyal relaksasi moneter untuk mulai melakukan ekspansi.

Menurut Eko, optimisme Pemerintah bahwa perekonomian akan membaik ke depannya perlu dibuktikan dengan sinyal yang bisa memberikan kepastian. Bagi sektor riil, sinyal tersebut bisa berupa kebijakan relaksasi moneter oleh BI.

“Pro-growth dilakukan melalui kebijakan makroprudensial, tapi bagi saya itu tidak cukup. Butuh kejelasan lagi mengenai sinyal relaksasi moneternya,” tambah dia.

Urgensi berikutnya yaitu untuk menghambat tanda-tanda melambatnya pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan proyeksi Indef, ada kemungkinan pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2024 terjun ke bawah level 5 persen, lantaran telah terjadi perlambatan dari triwulan I sebesar 5,1 persen lalu berlanjut menjadi 5,05 persen pada triwulan berikutnya.

“Kami mengkhawatirkan itu, tapi jangan sampai ini terjadi. Salah satu yang bisa mengangkat kembali ekonomi adalah sinyal moneter,” tutur Eko.

Adapun urgensi terakhir adalah menyambut transisi kepemimpinan dengan optimisme perekonomian. Biasanya, kata Eko, masa awal transisi pemerintahan digencarkan dengan berbagai kinerja positif ekonomi. Namun, tanpa langkah yang tepat, kinerja positif itu berpotensi hanya berlangsung singkat dan meredupkan optimisme dari pelaku pasar.

Sementara saat ini, sejumlah kondisi ekonomi memberikan sinyal yang positif. Misalnya, inflasi Amerika Serikat (AS) cenderung turun sehingga makin melebarkan peluang penurunan suku bunga The Fed atau Fed Fund Rate (FFR).

Kemudian, tensi geopolitik terbilang lebih landai. meski sejumlah isu konflik masih terjadi, namun kecenderungannya menunjukkan situasi yang mereda. Kondisi ini membuka momentum untuk menggerakkan sektor riil.

Dari sisi domestik, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS beberapa kali mengalami penguatan, diimbangi dengan posisi cadangan devisa yang meningkat menjadi 150,2 miliar dolar AS per Agustus.

“Dengan perkembangan terkini, harus kita sambut. Jangan terlalu lama menunggu,” katanya.

Dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur BI Bulan Agustus 2024, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 6,25 persen sebagai langkah pre-emptive dan forward looking untuk menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen pada 2024 dan 2025.

Keputusan tersebut tetap konsisten dengan fokus kebijakan moneter yang pro-stability, yaitu untuk penguatan lebih lanjut stabilisasi nilai tukar rupiah.

Tags: Bank IndonesiaIndefMetapos.idSuku bunga
Previous Post

Usai Diangkat jadi Dirut Bulog, Wahyu Suparyono Ingin Berantas Mafia Pangan

Next Post

Jadi Lebih Adaptif dan Solutif: Fitur Livin’ Sukha Permudah Semua Kebutuhan Finansial hingga Hiburan

Related Posts

Pendapatan Tembus Rp84,64 Triliun, ANTAM Tebar Dividen Rp5,04 Triliun
Ekbis

Pendapatan Tembus Rp84,64 Triliun, ANTAM Tebar Dividen Rp5,04 Triliun

11 June 2026
Dubes RI Minta WNI Patuhi Aturan demi Wujudkan Bebas Visa Penuh ke Korea Selatan
Ekbis

Bukan Rp16.250 per Liter, Segini Harga Asli Pertamax Tanpa Campur Tangan Pemerintah

11 June 2026
Harga Batu Bara Kembali Menguat, Permintaan Global Masih Tinggi
Ekbis

Harga Batu Bara Kembali Menguat, Permintaan Global Masih Tinggi

11 June 2026
Dubes RI Minta WNI Patuhi Aturan demi Wujudkan Bebas Visa Penuh ke Korea Selatan
Ekbis

Harga BBM ASEAN Terbaru, Indonesia Masih Jadi yang Termurah

10 June 2026
PLN Perpanjang Promo Diskon Tambah Daya 50 Persen hingga 23 Juni 2026
Ekbis

PLN Perpanjang Promo Diskon Tambah Daya 50 Persen hingga 23 Juni 2026

10 June 2026
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter, Berikut Daftar BBM Pertamina Terbaru 10 Juni 2026
Ekbis

Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter, Berikut Daftar BBM Pertamina Terbaru 10 Juni 2026

10 June 2026
Next Post
Jadi Lebih Adaptif dan Solutif: Fitur Livin’ Sukha Permudah Semua Kebutuhan Finansial hingga Hiburan

Jadi Lebih Adaptif dan Solutif: Fitur Livin' Sukha Permudah Semua Kebutuhan Finansial hingga Hiburan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Galeri

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini