Metapos.id, Jakarta – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, resmi membatalkan rencana kunjungan kenegaraannya ke Beijing, China, yang semula dijadwalkan pada awal September 2025. Dalam agenda tersebut, Presiden Prabowo sejatinya akan bertemu Presiden Xi Jinping sekaligus menghadiri parade militer besar yang digelar pada 3 September. Namun, dinamika politik dan keamanan di dalam negeri membuatnya memutuskan untuk tetap berada di tanah air.
Menteri Sekretaris Negara sekaligus Juru Bicara Presiden, Prasetyo Hadi, mengonfirmasi pembatalan tersebut. Ia menegaskan bahwa Presiden Prabowo lebih memilih untuk memantau langsung perkembangan situasi nasional, khususnya di sejumlah daerah yang dalam beberapa hari terakhir dilanda aksi massa. Menurutnya, stabilitas di dalam negeri menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditinggalkan.
“Presiden menyampaikan permohonan maaf kepada Pemerintah Tiongkok atas perubahan agenda ini. Beliau menilai penting untuk berada di tengah rakyat dan mengawasi langsung penyelesaian persoalan domestik,” ujar Prasetyo.
Prioritas Domestik di Tengah Undangan Internasional
Langkah Presiden Prabowo ini disebut sebagai bentuk komitmen untuk menempatkan kepentingan nasional di atas segalanya. Selain agenda di China, Presiden juga dijadwalkan menghadiri Sidang Majelis Umum PBB ke-80 di New York pada 23 September mendatang. Namun, fokus utama tetap pada upaya menjaga ketertiban di dalam negeri di tengah meningkatnya eskalasi demonstrasi.
Prasetyo menambahkan, keputusan Presiden mencerminkan sikap tegas bahwa pemimpin negara harus hadir secara langsung ketika rakyat menghadapi keresahan. “Agenda luar negeri bisa ditunda, tetapi tanggung jawab menjaga stabilitas dalam negeri harus diprioritaskan,” tegasnya.
Latar Belakang Situasi Nasional
Seperti diketahui, sejak akhir Agustus sejumlah kota besar di Indonesia dilanda gelombang aksi massa. Demonstrasi berlangsung di Jakarta, Bandung, Makassar, Semarang, Surabaya, Solo, hingga Yogyakarta.
Di Jakarta, suasana memanas pada 28 Agustus 2025 setelah insiden tragis menimpa seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan. Pemuda berusia 21 tahun itu tewas terlindas kendaraan taktis Brimob di kawasan Bendungan Hilir saat terjadi bentrokan antara aparat dan massa. Tragedi ini memperluas spektrum protes, dari isu tunjangan DPR hingga kritik terhadap tindakan represif aparat.
Situasi itulah yang mendorong Presiden untuk memutuskan tetap berada di Indonesia guna memastikan penanganan krisis berjalan cepat dan tepat.
Agenda Penting yang Terlewat di Beijing
Dengan batalnya kunjungan tersebut, Presiden Prabowo melewatkan kesempatan menghadiri parade militer besar di Beijing yang dihadiri oleh 25 kepala negara, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Acara itu digelar untuk memperingati 80 tahun kemenangan Tiongkok dalam Perang Melawan Jepang sekaligus Perang Dunia II.
Meskipun tidak hadir, undangan tersebut menunjukkan posisi strategis Indonesia di mata dunia. Pemerintah menilai hubungan diplomatik dengan China tetap terjaga, meski Presiden Prabowo harus menunda kehadirannya.