Metapos.id, Jakarta – Ada kalanya seseorang bertanya kepada Nabi ﷺ tentang sesuatu, tetapi beliau justru memberikan jawaban yang berbeda dari pertanyaan tersebut. Hal itu bukan berarti pertanyaan tidak dijawab, melainkan menunjukkan salah satu metode pendidikan Nabi ﷺ dalam mengajarkan cara berpikir, menentukan prioritas, dan memahami sesuatu yang paling bermanfaat.
Nabi ﷺ tidak hanya mengajarkan jawaban atas suatu pertanyaan, tetapi juga membimbing seseorang agar memahami hal yang lebih penting di balik pertanyaan tersebut. Karena itu, cara Nabi ﷺ menjawab dapat menjadi pelajaran mengenai bagaimana ilmu seharusnya membawa seseorang kepada pemahaman dan amal yang lebih baik.
Salah satu contoh terlihat ketika seseorang bertanya kepada Nabi ﷺ, مَتَى السَّاعَةُ؟ atau “Kapan hari Kiamat?” Nabi ﷺ tidak menjawab dengan tanggal atau waktu terjadinya Kiamat, tetapi justru bertanya kembali, مَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟ yang berarti “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”
Orang tersebut kemudian menjawab bahwa ia tidak memiliki banyak amal, tetapi ia mencintai Allah dan Rasul-Nya. Nabi ﷺ lalu bersabda, أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ, yang berarti “Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari nomor 6167 dan menunjukkan bagaimana Nabi ﷺ mengarahkan perhatian penanya dari sesuatu yang belum perlu diketahuinya kepada persiapan yang perlu dilakukan.
Pertanyaan tentang kapan Kiamat tidak diarahkan kepada pembahasan waktu terjadinya, tetapi kepada sesuatu yang lebih penting bagi kehidupan orang tersebut. Dari sini terlihat bahwa pendidikan Nabi ﷺ tidak hanya berorientasi pada pemenuhan rasa ingin tahu, tetapi juga mengarahkan manusia kepada hal yang paling bermanfaat bagi iman dan amal.
Pola serupa juga dapat ditemukan dalam Al-Qur’an ketika Allah berfirman, يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِىَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَٱلْحَجِّ, yang berarti, “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: bulan sabit itu adalah penunjuk waktu bagi manusia dan untuk ibadah haji.” (QS. Al-Baqarah: 189).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa pertanyaan mengenai bulan sabit diarahkan kepada fungsi dan manfaatnya bagi manusia, terutama dalam penentuan waktu dan pelaksanaan ibadah. Hal ini memberikan pelajaran bahwa dalam pendidikan Islam, seseorang dapat diarahkan dari sekadar bertanya tentang sesuatu yang membuat penasaran kepada pertanyaan yang lebih penting, yaitu apa manfaat pengetahuan tersebut bagi kehidupan.
Islam juga tidak mengajarkan seseorang untuk mengejar setiap pertanyaan sampai kepada detail yang tidak diperlukan. Nabi ﷺ bersabda, إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَىْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ، فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ, yang berarti bahwa seorang Muslim dapat mendapatkan dosa besar ketika menanyakan sesuatu yang sebelumnya tidak diharamkan hingga kemudian menjadi diharamkan karena pertanyaannya. (HR. Bukhari no. 7289).
Hadis tersebut bukan berarti Islam melarang umatnya untuk bertanya, sebab bertanya merupakan salah satu jalan untuk mendapatkan ilmu. Peringatan tersebut berkaitan dengan pertanyaan yang berlebihan, tidak bermanfaat, atau justru mempersulit sesuatu yang sebelumnya diberikan kemudahan.
Cara Nabi ﷺ menjawab pertanyaan juga menunjukkan pentingnya mengajarkan prioritas kepada manusia. Tidak semua hal yang ingin diketahui merupakan hal yang paling penting untuk diketahui, sehingga seseorang perlu belajar membedakan antara pengetahuan yang sekadar memuaskan rasa ingin tahu dan pengetahuan yang memberikan manfaat bagi iman serta kehidupannya.
Selain itu, metode tersebut mengarahkan seseorang dari teori kepada amal. Pertanyaan tentang Kiamat, misalnya, tidak berhenti pada keinginan mengetahui kapan peristiwa itu terjadi, tetapi diarahkan kepada pertanyaan mengenai apa yang telah dipersiapkan untuk menghadapinya.
Nabi ﷺ juga merupakan pendidik yang memperhatikan kondisi orang yang bertanya. Jawaban tidak selalu diberikan dengan cara yang sama kepada setiap orang karena pendidikan yang baik memperhatikan kebutuhan, keadaan, serta hal yang paling bermanfaat bagi orang yang sedang menerima nasihat.
Hal tersebut relevan dengan kehidupan saat ini ketika seseorang dapat memperoleh ribuan informasi hanya dalam beberapa menit melalui media sosial. Banyaknya informasi yang diketahui tidak selalu berarti seseorang memperoleh manfaat yang lebih besar, sehingga penting untuk mempertanyakan apakah pengetahuan tersebut membawa perubahan yang baik dalam kehidupan.
Karena itu, seseorang tidak hanya perlu bertanya, “Apakah informasi ini membuat saya semakin banyak tahu?” tetapi juga, “Apakah informasi ini membuat saya semakin dekat kepada Allah?” Pertanyaan tersebut membantu seseorang menempatkan ilmu bukan sekadar sebagai kumpulan informasi, tetapi sebagai sesuatu yang seharusnya menghasilkan pemahaman dan amal.
Pada akhirnya, Nabi ﷺ bukan sekadar seorang pemberi jawaban, tetapi juga seorang pendidik yang membimbing manusia menuju jawaban yang paling bermanfaat bagi iman dan kehidupannya. Ketika mempelajari hadis dan ilmu agama, seseorang tidak hanya perlu bertanya tentang apa jawabannya, tetapi juga apa yang Allah dan Rasul-Nya ingin dilakukan setelah mengetahui jawaban tersebut.
Dengan demikian, metode pendidikan Nabi ﷺ mengajarkan bahwa ilmu memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar memenuhi rasa ingin tahu. Pengetahuan yang baik adalah pengetahuan yang membantu seseorang memahami kebenaran, menentukan prioritas, mendekat kepada Allah, dan mengubah apa yang telah diketahui menjadi amal dalam kehidupan.







