Metapos.id, Jakarta – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2026, publik kembali dihadapkan pada fenomena yang seolah menjadi “langganan tahunan”, yakni turunnya hujan saat momen perayaan Imlek. Fenomena ini bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari kombinasi berbagai faktor, mulai dari kondisi iklim, nilai-nilai budaya, hingga latar belakang sejarah masyarakat agraris.
Hujan yang kerap hadir saat Imlek merupakan perpaduan antara proses alam dan makna simbolik yang telah mengakar kuat dalam kehidupan sosial masyarakat. Berikut sejumlah faktor yang melatarbelakanginya:
1. Imlek Bertepatan dengan Puncak Musim Hujan
Secara klimatologis, perayaan Imlek yang berlangsung pada rentang akhir Januari hingga Februari berada pada periode puncak musim hujan di Indonesia. Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, awal tahun menjadi fase dengan intensitas curah hujan yang tinggi di berbagai wilayah Tanah Air.
Selain itu, aktivitas angin muson timur laut yang membawa uap air dari kawasan laut turut meningkatkan kelembapan udara dan potensi hujan. Kondisi tersebut menjadikan suasana Imlek kerap identik dengan langit mendung, suhu udara yang lebih sejuk, serta hujan yang turun secara merata di sejumlah daerah.
2. Hujan sebagai Simbol
Keberuntungan dalam Budaya
Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, hujan tidak dimaknai sebagai pertanda buruk. Sebaliknya, hujan justru dipercaya sebagai simbol keberkahan, kelimpahan rezeki, dan kesuburan.
Air hujan dimaknai sebagai lambang kehidupan dan pembuka jalan bagi awal yang baik di tahun yang baru. Oleh karena itu, sebagian masyarakat meyakini bahwa hujan saat Imlek merupakan pertanda datangnya keberuntungan dan kemakmuran sepanjang tahun.
3. Warisan Tradisi Agraris
Secara historis, perayaan Tahun Baru China memiliki akar kuat dalam kehidupan masyarakat agraris. Dalam tradisi pertanian, hujan menjadi faktor utama penentu kesuburan tanah dan keberhasilan panen.
Nilai tersebut kemudian diwariskan secara turun-temurun dan membentuk pandangan bahwa hujan merupakan simbol harapan, kesejahteraan, dan keberlanjutan hidup. Makna ini terus melekat dalam perayaan Imlek hingga kini, menjadikan hujan bukan hanya fenomena alam, tetapi juga simbol yang penuh filosofi.












