Metapos.id, Jakarta – Fasilitas umum TransJakarta kembali menjadi sasaran amuk massa. Aksi solidaritas untuk seorang pengemudi ojek online yang meninggal dunia setelah terlindas kendaraan taktis (Rantis) Brimob Polri berujung ricuh. Sebanyak 21 halte dari berbagai koridor TransJakarta mengalami kerusakan, mulai dari dibakar, dijarah, hingga menjadi korban vandalisme.
Salah satu titik yang terdampak parah adalah Halte TransJakarta di Jalan Jenderal Sudirman, tepat di depan Gedung Polda Metro Jaya. Pada Jumat malam (29/8/2025) sekitar pukul 20.56 WIB, halte tersebut dibakar massa setelah sebelumnya lebih dulu dirusak. Kepulan asap hitam sempat membumbung tinggi dari lokasi kejadian.
Kericuhan ini pecah setelah massa menggelar aksi solidaritas di sekitar Polda Metro Jaya. Situasi yang awalnya berlangsung kondusif berubah menjadi tidak terkendali. Massa merusak dan membakar sejumlah fasilitas transportasi umum yang menjadi tulang punggung mobilitas warga ibu kota.
Berdasarkan data yang dihimpun redaksi hingga Sabtu pagi (30/8/2025) pukul 05.30 WIB, berikut daftar halte yang menjadi sasaran amuk massa:
Koridor 1
1. Halte Bunsen (dijarah dan dibakar)
2. Halte Senayan Bank DKI (dijarah dan dibakar)
3. Halte Polda Metro (dijarah dan dibakar)
4. Halte Benhil (dijarah)
Koridor 2
1. Halte Senen Toyota Rangga (vandalisme, dijarah, dibakar)
2. Halte Kwitang (vandalisme)
Koridor 5
1. Halte Senen Central (dijarah dan dibakar)
2. Halte Kampung Melayu (vandalisme, kaca rusak)
3. Halte Kramat Sentiong (dijarah)
Koridor 7
1. Halte Bidara Cina (vandalisme pada dinding halte, kaca luar loket, dan peta rute)
2. Halte Cililitan (vandalisme pada genset dan tiang JPO dekat halte)
Koridor 9
1. Halte Gerbang Pemuda arah Pluit (dibakar)
2. Halte Semanggi (dirusak)
3. Halte Slipi (dirusak)
4. Kontainer Slipi (dibakar)
5. Apar hilang, loker dibuang di jalan (Semanggi)
6. Apar hilang (Widya Chandra)
Koridor 11
1. Halte Jatinegara (coretan di samping halte)
Halte CSW Iconic
Halte Kejaksaan Agung (dirusak)
Kerugian akibat perusakan ini diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Selain itu, aktivitas transportasi warga Jakarta juga ikut terganggu karena beberapa halte harus ditutup sementara untuk proses perbaikan.
Pihak TransJakarta menyayangkan aksi anarkis ini. Fasilitas publik yang seharusnya digunakan untuk mendukung mobilitas masyarakat justru menjadi korban dalam situasi ricuh. Hingga kini, aparat kepolisian masih melakukan penjagaan ketat di sejumlah titik rawan untuk mencegah kerusuhan susulan.