Saturday, November 7, 2026
Metapos
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri

Anggaran Terbatas Bukan Halangan untuk Tetap Memenuhi Kebutuhan Gizi

Taufik Hidayat by Taufik Hidayat
7 November 2026
in Lifestyle & Health
Anggaran Terbatas Bukan Halangan untuk Tetap Memenuhi Kebutuhan Gizi

Metapos.id, Jakarta – Kondisi ekonomi yang belum menentu membuat masyarakat perlu lebih selektif dalam membelanjakan uang, termasuk untuk membeli kebutuhan makanan. Namun, keterbatasan biaya bukan berarti pemenuhan gizi harus dikorbankan.

Kebiasaan makan sehat tetap dapat dijalankan tanpa harus mengeluarkan banyak uang. Kuncinya adalah memilih bahan makanan yang mudah ditemukan, harganya terjangkau, serta memiliki kandungan nutrisi yang beragam.

BACA JUGA

Singapura Pangkas Biaya Haji 2027 hingga 30 Persen, Apa Penyebabnya?

Perjalanan Jakarta ke Bandung Bisa Murah, Ini Rute Keretanya

Dokter spesialis gizi klinik Rumah Sakit Siloam Simatupang, dr. Christopher Andrian, M.Gizi, Sp.GK, menjelaskan bahwa pola makan yang baik tidak hanya ditentukan oleh jenis makanan. Jumlah yang dikonsumsi dan keteraturan waktu makan juga perlu diperhatikan.

Christopher menyarankan agar setiap menu makanan mengandung karbohidrat, protein, lemak, dan serat dalam komposisi yang seimbang.

Salah satu panduan yang bisa diterapkan adalah membagi isi piring menjadi beberapa bagian. Sebanyak seperempat piring dapat diisi sumber karbohidrat, seperempat lainnya protein, sementara separuh bagian sisanya diperuntukkan bagi sayuran dan buah.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, masyarakat tidak harus membeli bahan makanan dengan harga tinggi. Nasi, telur, tahu, tempe, ubi, serta sayuran lokal bisa menjadi pilihan untuk menyusun menu harian.

Misalnya, menu pagi dapat berupa nasi, telur rebus, dan sayuran. Saat makan siang, masyarakat bisa mengombinasikan nasi dengan tahu atau tempe serta sayuran. Sementara pada malam hari, ubi rebus dapat dijadikan sumber karbohidrat yang dilengkapi telur dan sayuran.

Meski menggunakan bahan sederhana, Christopher mengingatkan bahwa kebutuhan porsi dan nutrisi setiap orang berbeda. Karena itu, pemilihan makanan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing.

Kondisi Psikologis Turut Memengaruhi Kebiasaan Makan

Menjaga kesehatan tidak cukup hanya dengan memperhatikan kandungan makanan. Faktor psikologis juga memiliki peran dalam membentuk kebiasaan makan seseorang.

Dokter spesialis kesehatan jiwa Eka Hospital BSD, dr. Putri Nugraheni, Sp.KJ, menjelaskan bahwa seseorang yang terbiasa mengonsumsi makanan dalam jumlah banyak belum tentu mengalami binge eating disorder (BED).

Gangguan tersebut berkaitan dengan kondisi psikologis yang dapat menimbulkan penderitaan dan menghambat aktivitas sehari-hari. Jika perubahan kebiasaan makan mulai mengganggu kehidupan seseorang, pemeriksaan oleh tenaga profesional perlu dipertimbangkan.

Putri turut menjelaskan bahwa obesitas dan depresi dapat saling memengaruhi. Orang dengan obesitas berpotensi menghadapi stigma maupun tekanan sosial yang kemudian berdampak pada kondisi mental.

Sebaliknya, gangguan kesehatan mental juga bisa memengaruhi pola tidur, keinginan untuk beraktivitas, nafsu makan, hingga kebiasaan sehari-hari.

Ia mengingatkan bahwa bentuk dan kondisi tubuh seseorang tidak bisa digunakan sebagai patokan untuk menilai kesehatan mental, karakter, ataupun kualitas pribadinya.

Obesitas Tidak Bisa Diatasi Hanya dengan Mengurangi Makan

Christopher menjelaskan bahwa obesitas merupakan kondisi kompleks yang tidak semata-mata disebabkan oleh kurangnya pengendalian diri dalam memilih makanan.

Di dalam tubuh terdapat sistem biologis yang mengatur rasa lapar, kenyang, serta proses penggunaan energi. Otak juga memiliki peran dalam mengendalikan perilaku makan, termasuk respons terhadap makanan yang memberikan kenikmatan dan proses pengambilan keputusan.

Ketika berat badan berhasil diturunkan, tubuh bahkan dapat memberikan respons berupa peningkatan rasa lapar. Hal ini menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang kesulitan mempertahankan berat badan dalam jangka panjang.

“Obesitas membutuhkan strategi jangka panjang yang disesuaikan dengan kondisi setiap individu,” kata Christopher.

Ia menegaskan bahwa pengaturan makanan dan aktivitas fisik tetap menjadi dasar utama dalam menangani obesitas. Namun, pada kondisi tertentu, penanganan juga dapat melibatkan dukungan psikologis, terapi perilaku, penggunaan obat, hingga tindakan bedah bariatrik berdasarkan pertimbangan medis.

Salah satu pilihan pengobatan yang dapat digunakan adalah golongan glucagon-like peptide-1 receptor agonist (GLP-1 RA). Obat ini bekerja menyerupai hormon alami tubuh yang mengirimkan sinyal kenyang sehingga membantu mengendalikan rasa lapar.

Meski demikian, GLP-1 RA merupakan obat keras yang hanya boleh digunakan berdasarkan resep dan pemantauan dokter. Penggunaannya harus mempertimbangkan kondisi pasien, manfaat pengobatan, risiko, serta kemungkinan efek samping.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan tidak selalu membutuhkan biaya besar. Memanfaatkan bahan makanan sederhana, menerapkan komposisi gizi seimbang, mengatur porsi, dan memperhatikan kesehatan mental dapat menjadi langkah awal untuk mempertahankan kualitas hidup.

Tags: gizi seimbangkesehatan mentalmakan sehatMetapos.idpenanganan obesitastekanan ekonomi
Previous Post

Singapura Pangkas Biaya Haji 2027 hingga 30 Persen, Apa Penyebabnya?

Next Post

Bahlil Respons Kabar Munaslub Golkar yang Dikaitkan dengan Gank Solo

Related Posts

Singapura Pangkas Biaya Haji 2027 hingga 30 Persen, Apa Penyebabnya?
Lifestyle & Health

Singapura Pangkas Biaya Haji 2027 hingga 30 Persen, Apa Penyebabnya?

7 November 2026
Perjalanan Jakarta ke Bandung Bisa Murah, Ini Rute Keretanya
Lifestyle & Health

Perjalanan Jakarta ke Bandung Bisa Murah, Ini Rute Keretanya

7 November 2026
Kapan Sebaiknya Makan Pisang? Ini Waktu yang Dianjurkan untuk Tubuh
Lifestyle & Health

Kapan Sebaiknya Makan Pisang? Ini Waktu yang Dianjurkan untuk Tubuh

7 November 2026
TikTok Umumkan 11 Kreator Indonesia untuk Ajang Regional
Lifestyle & Health

TikTok Umumkan 11 Kreator Indonesia untuk Ajang Regional

6 November 2026
Godzilla Minus Zero Hadirkan Ancaman King Ghidorah dan Godzilla
Lifestyle & Health

Godzilla Minus Zero Hadirkan Ancaman King Ghidorah dan Godzilla

6 November 2026
Sinopsis When I Meet the Moon, Cinta Lama yang Kembali Bersemi
Lifestyle & Health

Sinopsis When I Meet the Moon, Cinta Lama yang Kembali Bersemi

6 November 2026
Next Post
Bahlil Respons Kabar Munaslub Golkar yang Dikaitkan dengan Gank Solo

Bahlil Respons Kabar Munaslub Golkar yang Dikaitkan dengan Gank Solo

  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini