Metapos.id, Jakarta – Dampak kebiasaan merokok tidak hanya berkaitan dengan kesehatan paru-paru. Paparan asap rokok juga dapat memengaruhi kondisi pita suara dan menyebabkan perubahan pada kualitas suara seseorang.
Asap rokok yang terus-menerus mengenai pita suara dapat memicu iritasi dan pembengkakan. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu getaran pita suara sehingga suara terdengar lebih berat, serak, atau sulit mencapai nada tinggi.
Pita suara sendiri merupakan jaringan yang berada di dalam laring dan menghasilkan suara melalui getaran saat udara melaluinya.
“Pita suara merupakan dua pita jaringan di dalam kotak suara atau laring. Pita tersebut bergetar ketika udara melewatinya untuk menghasilkan suara,” jelas Dr Rohit Udaya Prasad, Lead and Senior Consultant bidang THT dan Cochlear Implants di KIMS Hospitals Bengaluru.
Saat seseorang merokok, asap tembakau melewati saluran pernapasan dan bersentuhan dengan jaringan pita suara. Kandungan zat kimia di dalam asap tersebut dapat memicu peradangan, iritasi, pembengkakan, serta meningkatkan produksi lendir.
Paparan yang berlangsung secara berulang dalam jangka waktu panjang dapat memengaruhi struktur dan kinerja pita suara. Perubahan tersebut membuat suara berpotensi terdengar lebih rendah, kasar, dan kehilangan kelenturannya.
“Suara yang lebih berat tidak selalu berarti lebih sehat atau lebih kuat. Pembengkakan akibat merokok dapat menurunkan nada suara sekaligus membuatnya lebih kasar dan kurang fleksibel,” ujarnya.
Perubahan suara pada perokok dapat terlihat dari munculnya suara serak atau lebih berat dari biasanya. Jangkauan nada juga bisa menyempit dan suara menjadi lebih cepat lelah ketika digunakan.
Dalam jangka panjang, paparan asap rokok berisiko menimbulkan perubahan yang menetap pada jaringan pita suara. Salah satu kondisi yang dapat terjadi adalah edema Reinke, yakni penumpukan cairan pada jaringan pita suara yang membuat suara semakin berat dan serak.
Merokok juga berkaitan dengan peningkatan risiko kanker laring yang dapat menyebabkan perubahan pada suara. Oleh karena itu, perubahan suara yang berlangsung dalam waktu lama sebaiknya tidak diabaikan.
Menghentikan kebiasaan merokok dapat mengurangi paparan zat yang mengiritasi dan memberikan kesempatan bagi pita suara untuk melakukan pemulihan. Meski demikian, kondisi suara belum tentu kembali seperti semula apabila telah terjadi perubahan atau kerusakan pada struktur jaringan.
Perokok dianjurkan berkonsultasi dengan dokter THT apabila suara serak berlangsung selama tiga hingga empat minggu, semakin berat, atau terjadi secara berulang. Pemeriksaan lebih dini juga diperlukan jika perubahan suara disertai kesulitan menelan, benjolan pada leher, batuk berdarah, penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas, maupun gangguan pernapasan.






