Metapos.id, Jakarta – Korea Utara (Korut) menuding militer Korea Selatan (Korsel) sengaja memperburuk ketegangan di sepanjang wilayah perbatasan kedua negara. Pyongyang juga memperingatkan bahwa peningkatan aktivitas militer Amerika Serikat (AS) dan Korsel berpotensi memicu bentrokan bersenjata secara tiba-tiba.
Peringatan tersebut disampaikan melalui pernyataan juru bicara Kementerian Pertahanan Korut pada Jumat (30/10/2026). Pernyataan itu disiarkan oleh kantor berita pemerintah Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA).
Juru bicara tersebut menilai kegiatan militer yang semakin sering dilakukan oleh pihak lawan di sekitar perbatasan meningkatkan risiko konflik bersenjata yang tidak terduga. Korut juga memperingatkan bahwa bentrokan semacam itu dapat menimbulkan konsekuensi serius.
Menurut Kementerian Pertahanan Korut, situasi keamanan semakin memburuk karena AS dan Korsel berupaya memperkuat keunggulan militer melalui perluasan jaringan aliansi serta pelaksanaan latihan militer bersama.
Pyongyang menilai aktivitas militer kedua negara tersebut semakin menyerupai situasi pertempuran nyata, termasuk latihan yang disebut melibatkan skenario serangan preventif. Kondisi itu dianggap sebagai ancaman serius terhadap keamanan nasional Korut.
Pemerintah Korut menyatakan akan terus memperkuat langkah pertahanan dan mempertahankan kemampuan pencegahan militer. Mereka juga menegaskan tidak akan membatasi tindakan yang dianggap perlu untuk menjaga keamanan di Semenanjung Korea.
Ketegangan kedua negara turut dipicu insiden ledakan ranjau di Zona Demiliterisasi (DMZ) pada 21 September 2026. Peristiwa tersebut menyebabkan tiga tentara Korsel terluka, dua di antaranya mengalami luka serius.
Hasil investigasi bersama militer Korsel dan Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa menyimpulkan bahwa ranjau tersebut kemungkinan besar dipasang oleh pasukan Korut di sisi selatan Garis Demarkasi Militer. Seoul kemudian menilai tindakan itu sebagai pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata dan menuntut Korut bertanggung jawab.
Namun, Pyongyang membantah tuduhan tersebut. Korea Utara justru menuding Seoul merekayasa insiden ranjau untuk membenarkan aktivitas militernya di perbatasan.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Korea Selatan sebelumnya telah mengusulkan pertemuan militer untuk memperjelas lokasi garis demarkasi, memulihkan jalur komunikasi, serta mencegah bentrokan yang tidak disengaja. Hingga saat ini, respons positif dari Korea Utara terhadap usulan tersebut belum terlihat.







