Metapos.id, Jakarta – Terbangun saat tengah malam lalu kesulitan melanjutkan tidur dapat mengurangi kualitas istirahat. Jika terus berulang, kondisi ini berpotensi membuat tubuh terasa lemas dan konsentrasi menurun pada hari berikutnya.
Salah satu waktu yang sering dikaitkan dengan kejadian tersebut adalah sekitar pukul 03.00 dini hari. Namun, terbangun pada jam itu tidak serta-merta menunjukkan adanya gangguan kesehatan tertentu.
Dikutip dari Verywell Mind, psikolog kesehatan sekaligus spesialis stres dan insomnia, Julia Kogan, PsyD, menjelaskan bahwa tidur terdiri dari sejumlah siklus yang berlangsung sekitar 90 hingga 100 menit. Ketika memasuki paruh kedua malam, fase tidur cenderung lebih ringan sehingga seseorang lebih mudah terjaga.
Apabila seseorang masih bisa kembali tidur dengan mudah dan aktivitas hariannya tidak terganggu, kondisi tersebut umumnya tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
Salah satu faktor yang dapat memicu seseorang terbangun pada malam hari adalah stres dan kecemasan. Pikiran mengenai pekerjaan, hubungan, maupun masalah pribadi bisa membuat tubuh tetap waspada, sehingga tidur lebih mudah terganggu.
Terapis Annie Miller, LCSW-C, menjelaskan bahwa stres yang disertai gangguan tidur berulang dapat membentuk kebiasaan otak untuk terjaga pada waktu tertentu. Akibatnya, seseorang bisa terbangun pada jam yang sama meskipun penyebab stres sebelumnya sudah berkurang.
Selain stres, perubahan hormon kortisol juga dapat memengaruhi pola tidur. Hormon ini berperan dalam respons tubuh terhadap stres dan pengaturan ritme sirkadian atau jam biologis.
Secara alami, kadar kortisol mulai meningkat menjelang pagi untuk mempersiapkan tubuh bangun. Namun, stres berkepanjangan dapat mengganggu pola istirahat dan membuat seseorang lebih mudah terjaga pada malam hari.






