Metapos.id, Jakarta – Bersyukur merupakan salah satu amalan sederhana yang memiliki keutamaan besar dalam Islam. Melalui rasa syukur, seorang Muslim diajarkan untuk menyadari bahwa makanan, kesehatan, keluarga, pekerjaan, dan berbagai kenikmatan lainnya merupakan karunia dari Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah:
الطَّاعِمُ الشَّاكِرُ بِمَنْزِلَةِ الصَّائِمِ الصَّابِرِ
Artinya, orang yang makan kemudian bersyukur memiliki kedudukan seperti orang yang berpuasa dan bersabar. Hadis ini mengingatkan bahwa rasa syukur atas nikmat yang diperoleh sehari-hari memiliki nilai penting dalam kehidupan seorang Muslim.
Syukur Tidak Cukup dengan Ucapan
Tidak semua orang yang menikmati makanan dan berbagai kemudahan menyadari bahwa semua itu merupakan nikmat dari Allah SWT. Ada kalanya seseorang begitu terbiasa dengan kenyamanan hidup hingga lupa mengucapkan pujian kepada Allah dan menggunakan nikmat tersebut untuk kebaikan.
Padahal, mengucapkan Alhamdulillah seharusnya disertai kesadaran dalam hati bahwa Allah merupakan pemberi segala nikmat. Kesadaran tersebut menjadi dasar bagi seorang Muslim untuk tidak bersikap sombong serta lebih menghargai apa yang telah dimilikinya.
Allah SWT berfirman dalam Surah Saba ayat 13:
وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
Artinya, “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa bersyukur merupakan amalan yang perlu terus dilatih, bukan hanya ketika mendapatkan rezeki besar atau mengalami kebahagiaan. Seorang Muslim juga dapat mensyukuri hal-hal sederhana yang kerap luput dari perhatian.
Tiga Bentuk Syukur dalam Kehidupan
Syukur dapat diwujudkan melalui hati, lisan, dan perbuatan. Syukur dengan hati berarti meyakini bahwa segala kenikmatan berasal dari Allah SWT, sedangkan syukur dengan lisan diwujudkan melalui pujian kepada-Nya, seperti mengucapkan Alhamdulillah.
Adapun syukur melalui anggota badan dilakukan dengan menggunakan nikmat untuk hal-hal yang diridai Allah. Mata digunakan untuk melihat kebaikan, lisan untuk berkata jujur, harta untuk membantu sesama, dan kesehatan untuk beribadah serta melakukan kegiatan yang bermanfaat.
Dengan demikian, rasa syukur tidak berhenti pada ucapan, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari. Nikmat yang dimiliki menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus memberikan manfaat bagi orang lain.
Makan dan Minum Bisa Mendatangkan Keridhaan Allah
Islam mengajarkan bahwa aktivitas sehari-hari dapat bernilai ibadah apabila disertai niat yang baik dan dilakukan sesuai tuntunan agama. Makan dan minum, misalnya, bukan hanya kebutuhan untuk mempertahankan kesehatan, tetapi juga kesempatan untuk mengingat serta memuji Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا
Artinya, Allah benar-benar meridai seorang hamba yang makan kemudian memuji-Nya atas makanan tersebut, atau minum kemudian memuji-Nya atas minuman tersebut. Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Sahih Muslim nomor 2734.
Hadis tersebut menunjukkan bahwa kesempatan untuk mendapatkan keridhaan Allah dapat hadir melalui kebiasaan sederhana. Karena itu, seorang Muslim dianjurkan untuk mengingat Allah sebelum dan sesudah makan serta tidak menganggap remeh nikmat yang diterimanya.
Bersyukur Saat Senang, Bersabar Saat Sulit
Kehidupan seorang mukmin tidak selalu berjalan sesuai harapan, tetapi setiap keadaan dapat menjadi jalan menuju kebaikan melalui sikap yang tepat. Ketika memperoleh kesenangan, ia bersyukur, sedangkan ketika menghadapi kesulitan, ia berusaha bersabar dan tetap menjalankan kewajibannya.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Muslim nomor 2999 bahwa urusan seorang mukmin sungguh menakjubkan karena seluruh keadaannya dapat menjadi kebaikan baginya. Ketika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, dan ketika tertimpa kesusahan, ia bersabar.
Ajaran tersebut menegaskan pentingnya menjaga hubungan dengan Allah dalam berbagai keadaan. Syukur dan sabar bukan hanya sikap ketika menghadapi peristiwa besar, melainkan juga bagian dari keseharian seorang Muslim.
Jangan Menunggu Kaya untuk Bersyukur
Sebagian orang menunda rasa syukur karena merasa belum memiliki cukup harta atau belum mencapai cita-cita yang diinginkan. Padahal, kesehatan, kemampuan melihat dan mendengar, keluarga, makanan, air bersih, serta kesempatan beribadah merupakan nikmat yang patut disyukuri.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 34 bahwa manusia tidak akan mampu menghitung seluruh nikmat yang diberikan-Nya. Ayat ini mengingatkan bahwa karunia Allah begitu luas, bahkan banyak di antaranya baru terasa berharga ketika seseorang kehilangan atau tidak lagi memilikinya.
Oleh karena itu, bersyukur tidak harus menunggu seseorang menjadi kaya atau memperoleh sesuatu yang besar. Mengucapkan Alhamdulillah dengan kesadaran, menjaga nikmat yang dimiliki, dan menggunakannya untuk melakukan kebaikan merupakan langkah sederhana untuk membangun kebiasaan bersyukur.
Pada akhirnya, rasa syukur mengajarkan seorang Muslim untuk mengenali sumber nikmat, menghargai apa yang dimiliki, dan tidak melupakan Allah dalam setiap keadaan. Alhamdulillāhi ‘alā kulli ni‘mah, segala puji bagi Allah atas setiap nikmat.






