Metapos.id, Jakarta – Kisah Tsa’labah bin Abdurrahman Al-Anshari kerap disampaikan sebagai cerita teladan tentang rasa takut kepada Allah SWT, penyesalan atas kesalahan, dan keinginan untuk mendapatkan ampunan. Dalam versi yang populer, Tsa’labah dikisahkan mengasingkan diri setelah tanpa sengaja melihat seorang perempuan yang sedang mandi, lalu menangis hingga akhirnya kembali menemui Rasulullah SAW.
Cerita tersebut menggambarkan bagaimana rasa bersalah dapat mendorong seseorang untuk mengevaluasi diri dan memohon ampun kepada Allah. Namun, umat Islam perlu membedakan pesan moral sebuah cerita dengan kepastian kebenaran riwayat yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Kisah Tsa’labah yang Diceritakan dalam Literatur Islam
Dalam versi cerita yang beredar, Tsa’labah sedang menjalankan tugas dari Rasulullah SAW ketika melewati sebuah rumah di Madinah. Ia kemudian dikisahkan melihat seorang perempuan yang sedang mandi akibat tirai rumah yang tersingkap oleh angin, sehingga peristiwa itu membuatnya diliputi rasa takut dan penyesalan.
Tsa’labah disebut meninggalkan tugas tersebut dan pergi ke kawasan pegunungan untuk mengasingkan diri. Selama berada di sana, ia dikisahkan terus menangis, memohon ampun kepada Allah, dan merasa takut untuk kembali menghadap Rasulullah SAW.
Karena Tsa’labah tidak kunjung kembali, Rasulullah SAW disebut menanyakan keberadaannya dan mengutus para sahabat untuk mencarinya. Dalam cerita tersebut, Umar bin Khattab dan Mu’adz bin Jabal kemudian menemukan Tsa’labah dalam kondisi lemah sebelum membawanya kembali ke Madinah.
Setelah bertemu Rasulullah SAW, Tsa’labah dikisahkan menceritakan kejadian yang membuatnya merasa bersalah. Versi cerita ini menyebut Rasulullah SAW menyampaikan kabar ampunan Allah kepadanya sebelum Tsa’labah meninggal dunia dalam keadaan bersandar di pangkuan Nabi.
Cerita tersebut juga memuat bagian tentang banyaknya malaikat yang menghadiri pemakaman Tsa’labah. Akan tetapi, rincian dialog, turunnya wahyu, kematian di pangkuan Rasulullah, hingga keadaan para malaikat saat pemakaman perlu diperiksa berdasarkan sumber riwayat yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pelajaran tentang Taubat dan Rasa Takut kepada Allah
Terlepas dari kepastian riwayatnya, kisah ini sering digunakan untuk mengingatkan umat Islam agar tidak meremehkan kesalahan dan senantiasa menjaga perilaku. Islam mengajarkan pentingnya taubat, memohon ampun kepada Allah, serta memperbaiki diri ketika menyadari telah melakukan kekeliruan.
Namun, rasa takut kepada Allah perlu berjalan seimbang dengan harapan terhadap rahmat dan ampunan-Nya. Seseorang tidak seharusnya berputus asa dari rahmat Allah hanya karena pernah melakukan kesalahan, terlebih jika ia telah berusaha bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Al-Qur’an dalam Surah Az-Zumar ayat 53 mengingatkan agar manusia tidak berputus asa dari rahmat Allah karena Dia mengampuni dosa-dosa bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Pesan ini menegaskan bahwa taubat harus disertai harapan, bukan membuat seseorang kehilangan harapan untuk memperbaiki hidupnya.
Perlu Memeriksa Kekuatan Riwayat
Cerita Tsa’labah bin Abdurrahman kerap dikaitkan dengan kitab Tanbihul Ghafilin karya Abul Laith As-Samarqandi. Meski demikian, penyebutan sebuah kitab sebagai sumber tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh detail cerita di dalamnya merupakan riwayat sahih.
Karena kisah ini memuat perkataan dan peristiwa yang dinisbatkan kepada Rasulullah SAW, pemeriksaan terhadap sumber asli, sanad, dan penilaian ulama hadis menjadi penting sebelum cerita tersebut disampaikan sebagai fakta sejarah Islam. Dengan demikian, pesan tentang taubat dan introspeksi diri tetap dapat dipetik tanpa memastikan bagian cerita yang belum terverifikasi.







