Metapos.id, Jakarta – Kabut asap pekat yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan menyelimuti Batam, Kepulauan Riau. Dampaknya, Singapura yang biasanya dapat terlihat dari kawasan pesisir Batam kini tertutup kabut asap.
Gangguan jarak pandang ini telah terjadi sejak Rabu (14/10/2026). Hingga Jumat (16/10/2026), gedung-gedung tinggi di Singapura tidak lagi tampak dari kawasan Sekupang dan Belakang Padang.
“Dari rabu kemarin, sudah tidak terlihat lagi Singapura dari Batam,” kata salah satu warga Batam, Eko, dikutip dari berbagai sumber, Jumat (16/10/2026).
Selain mengurangi jarak pandang, kabut asap juga memengaruhi kegiatan ekonomi masyarakat setempat. Eko menyebut jumlah pengunjung pantai di Sekupang menurun, sehingga pedagang yang biasanya berjualan pada sore hari kehilangan pelanggan.
Dampak serupa dirasakan pedagang di kawasan Welcome To Batam, Batam Center, yang menjadi salah satu tujuan wisata kuliner. Berkurangnya kunjungan wisatawan, termasuk dari Malaysia dan Singapura, membuat aktivitas perdagangan di kawasan tersebut ikut lesu.
“Sepi pengunjung, akibat kabut asap. Biasanya, ramai yang datang,” kata Santi, salah satu pedagang minuman di kawasan tersebut.
Di sisi lain, Kepala Bidang Keselamatan Berlayar, Penjagaan, dan Patroli KSOP Khusus Batam, Yuzirwan Nasution, mengatakan belum ada laporan bahwa kabut asap menghambat pelayaran internasional, baik menuju maupun dari Singapura dan Malaysia.
Meski belum ditemukan gangguan pelayaran, KSOP Batam tetap meminta operator kapal, perusahaan keagenan, dan pengguna jasa maritim untuk berhati-hati. Perangkat navigasi, termasuk radar, juga perlu diaktifkan guna membantu awak kapal memantau kondisi di sekitar jalur pelayaran saat jarak pandang terbatas.







