Metapos.id, Jakarta – TikTok membagikan lima tips bagi masyarakat untuk memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) secara lebih bijak dan bertanggung jawab. Mulai dari memilih perangkat yang sesuai hingga memeriksa keaslian informasi sebelum membagikannya, kebiasaan ini dinilai penting di tengah semakin luasnya penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam proses kreatif, AI dapat membantu pengguna mencari inspirasi, memproduksi konten, hingga mempelajari keterampilan baru. Namun, manfaat teknologi tersebut tetap bergantung pada cara penggunaannya, termasuk transparansi dalam pembuatan konten dan kesadaran terhadap risiko informasi yang keliru.
Pengamat Teknologi Informasi dan Ahli Keamanan Siber, Alfons Tanujaya, menilai tanggung jawab pengguna dan keterbukaan platform semakin penting seiring pesatnya perkembangan AI generatif.
“Kecepatan perkembangan AI generatif jauh melampaui kecepatan masyarakat beradaptasi mengenalinya. Dulu, membuat sebuah video kreatif butuh waktu yang cukup lama, tapi sekarang, siapa pun bisa menghasilkan gambar atau video yang nyaris tidak terbedakan dari aslinya hanya dalam hitungan detik. Di titik inilah tanggung jawab pengguna dan transparansi dari platform menjadi lini pertahanan utama, bukan lagi pilihan tambahan,” ujar Alfons.
Berikut lima kebiasaan yang dapat diterapkan untuk berkreasi dan menikmati konten AI secara lebih bertanggung jawab.
1. Jadikan AI sebagai Asisten, Bukan Pengganti Manusia
AI dapat membantu mengembangkan ide dan membuka berbagai kemungkinan dalam berkarya. Meski demikian, perspektif, pengalaman, dan intuisi manusia tetap berperan dalam memberikan identitas serta makna pada sebuah karya.
Alfons menekankan bahwa hasil AI tetap membutuhkan campur tangan manusia agar dapat memberikan manfaat yang relevan bagi masyarakat.
“Di balik setiap informasi atau konten yang dihasilkan dengan bantuan AI, tetap dibutuhkan campur tangan manusia. Nilai tambah yang sesungguhnya lahir ketika kita memberikan perspektif, empati, serta keahlian analitis untuk mengubah data mentah dari AI menjadi solusi yang bermakna dan berdampak positif bagi publik.”
Karena itu, kreator perlu memastikan hasil akhir tetap mencerminkan perspektif dan keputusan mereka sendiri. Penggunaan AI juga sebaiknya tidak menjadi sarana untuk meniru gaya atau konten milik orang lain.
2. Terbuka saat Menggunakan AI
AI dapat membantu mempercepat proses kreatif, tetapi kreator tetap perlu mengevaluasi hasilnya. Pemeriksaan perlu dilakukan untuk memastikan konten sesuai konteks, relevan dengan audiens, dan tidak menyesatkan.
Kreator TikTok Theresa (@theresalearns) turut menekankan pentingnya penggunaan AI secara benar dan bertanggung jawab. Menurutnya, transparansi perlu menjadi bagian dari proses pembuatan konten berbantuan AI.
Pengguna dapat mengaktifkan Label AI sebelum mengunggah konten yang dibuat atau diedit secara signifikan menggunakan teknologi tersebut. Keterbukaan ini membantu audiens memahami konteks konten sekaligus menjaga kepercayaan.
TikTok juga menghadirkan sejumlah teknologi untuk membantu pengguna mengenali konten buatan AI. Dua tahun lalu, platform tersebut menjadi platform video pertama yang menerapkan Kredensial Konten C2PA, teknologi yang membantu mengidentifikasi konten yang dibuat atau diedit secara signifikan menggunakan AI.
Hingga kini, TikTok telah memberikan label pada lebih dari 3 miliar video buatan AI di seluruh dunia melalui kombinasi Content Credentials, Creator Labeling Tools, dan Invisible Watermarking.
3. Pilih Tools AI Sesuai Kebutuhan
Beragam perangkat AI tersedia untuk mendukung proses kreatif. Karena setiap perangkat memiliki fungsi berbeda, pengguna disarankan memilih tools berdasarkan kebutuhan agar hasilnya lebih optimal.
TikTok menyediakan perangkat AI kreatif yang dapat dimanfaatkan pengguna, di antaranya AI Outline dan Smart Split.
AI Outline membantu kreator menyusun perencanaan konten, mulai dari kerangka ide, judul, hashtag, hingga hook atau pembuka yang menarik. Sementara itu, Smart Split di TikTok Studio dapat mengubah video berdurasi panjang menjadi beberapa klip pendek secara otomatis.
Kedua fitur tersebut dapat membantu kreator mengembangkan ide dan mengolah materi konten dengan lebih praktis. Meski begitu, hasilnya tetap perlu ditinjau agar sesuai dengan tujuan dan karakter konten yang ingin dibuat.
4. Terapkan Prinsip 3C sebelum Membagikan Konten Mencurigakan
Kemampuan AI menghasilkan gambar dan video yang tampak realistis membuat pengguna perlu lebih cermat saat menerima informasi di media sosial.
Kreator TikTok Evelyn Hutani (@hutanhutani) mengingatkan bahwa konten yang terlihat menarik atau lucu dapat memancing reaksi spontan dan mendorong orang untuk segera membagikannya. Padahal, konten tersebut belum tentu akurat.
Untuk menghadapinya, pengguna dapat menerapkan prinsip 3C sebagai bagian dari kebiasaan #PikirDuaKali, yaitu:
- CEK: Kenali apakah konten dibuat atau diubah menggunakan AI, pahami konteksnya, dan periksa sumber tepercaya jika diperlukan.
- CEGAH: Jangan terburu-buru mempercayai atau membagikan konten yang masih meragukan.
- CEGAT: Manfaatkan fitur pelaporan jika menemukan konten yang dinilai melanggar aturan platform.
Selain memeriksa konten, pengguna juga dapat menyesuaikan jumlah konten buatan AI yang muncul di halaman Saran atau feed For You TikTok. Pengaturan tersebut dapat ditemukan melalui menu Pengaturan dan Privasi, lalu Preferensi Konten, Kelola Topik, dan Konten Buatan AI.
Kreator Evelyn dan Tommy Teja (@tommythings) turut membagikan tips mengenai pengaturan preferensi tersebut agar pengguna dapat menyesuaikan pengalaman mereka di platform.
5. Terus Tingkatkan Literasi AI
Perkembangan AI yang berlangsung cepat membuat pemahaman masyarakat terhadap teknologi ini perlu terus diperbarui. Edukasi menjadi salah satu cara agar pengguna mampu memahami kemampuan sekaligus keterbatasan AI.
Untuk mendukung hal tersebut, TikTok bekerja sama dengan mitra industri, termasuk NAMLE dan Henry Ajder, dalam menyusun panduan bagi komunitas agar dapat menggunakan perangkat AI secara bertanggung jawab.
TikTok juga berinvestasi dalam menghubungkan para ahli tepercaya dengan komunitasnya. Upaya tersebut mencakup dukungan kepada organisasi seperti NoFiltr dan Raspberry Pi Foundation untuk mendorong literasi AI melalui konten di platform.
Sejak diluncurkan pada November 2025, program tersebut telah membantu berbagai organisasi ahli meraih lebih dari 200 juta tayangan melalui konten yang mendukung pemahaman dan penggunaan AI secara bertanggung jawab.
Pada akhirnya, AI merupakan alat yang manfaatnya bergantung pada cara manusia menggunakannya. Dengan menentukan tujuan yang jelas, memilih perangkat yang sesuai, mempertahankan peran manusia dalam proses kreatif, memeriksa informasi, dan terus belajar, pengguna dapat memanfaatkan AI dengan lebih percaya diri dan bertanggung jawab.
Masyarakat yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai pengelolaan konten AI di TikTok dapat mengetik kata “AI” di kolom pencarian platform tersebut untuk menemukan informasi mengenai fitur dan panduan penggunaan AI secara bertanggung jawab.







