Metapos.id, Jakarta – Jepang mempertimbangkan kemungkinan memiliki kapal selam bertenaga nuklir di tengah meningkatnya aktivitas militer China di kawasan Pasifik dan upaya pemerintah memperkuat kemampuan pertahanan nasional.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan pemerintah akan mengkaji opsi tersebut secara serius, meski belum mengambil keputusan mengenai jenis kapal selam yang akan digunakan Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF).
“Kami akan mempertimbangkan hal itu secara konkret, serius, dan realistis,” kata Takaichi dalam rapat parlemen, dikutip dari berbagai sumber, Kamis (15 Oktober 2026).
Wacana ini muncul ketika pemerintah Jepang bersiap memperbarui tiga dokumen utama kebijakan keamanan dan pertahanan sebelum akhir 2026, termasuk kemungkinan memasukkan kajian mengenai kepemilikan kapal selam bertenaga nuklir.
Pendukung rencana tersebut menilai kapal selam jenis ini memiliki keunggulan dalam daya jelajah, kecepatan, dan kemampuan bertahan lama di bawah permukaan laut dibandingkan kapal selam konvensional.
Kemampuan itu dinilai dapat memperkuat pengawasan serta daya tangkal Jepang, terutama ketika aktivitas militer China semakin meluas ke Samudra Pasifik.
Meski demikian, rencana tersebut belum mendapat dukungan penuh di dalam pemerintahan dan koalisi penguasa. Sejumlah anggota Partai Demokrat Liberal masih bersikap hati-hati, sementara tujuan dan kebutuhan strategis pengadaan kapal selam tersebut masih menjadi bahan pembahasan.
Jepang juga menghadapi pertimbangan hukum dan kebijakan terkait pemanfaatan tenaga nuklir untuk tujuan damai. Selain itu, negara tersebut mempertahankan Tiga Prinsip Non-Nuklir yang melarang kepemilikan, produksi, dan masuknya senjata nuklir ke wilayahnya.
Namun, kapal selam bertenaga nuklir tidak otomatis berarti kapal selam pembawa senjata nuklir karena istilah tersebut merujuk pada sumber tenaga penggeraknya.
Takaichi menyebut pemerintah juga akan memperhatikan perkembangan kemampuan kapal selam negara mitra, termasuk Australia dan Korea Selatan, dalam menyusun kebijakan pertahanan berikutnya.
Pembahasan mengenai kapal selam bertenaga nuklir menjadi bagian dari perdebatan yang lebih luas mengenai kesiapan militer Jepang menghadapi perubahan lingkungan keamanan regional. Hingga kini, pemerintah belum menetapkan keputusan final mengenai pengadaannya.







