Metapos.id, Jakarta – Tiga orang terluka dalam serangan di sebuah lembaga pendidikan tinggi di Warsaw, Polandia, pada Sabtu (10/10). Insiden ini menjadi penyerangan sekolah ketiga di negara tersebut dalam waktu kurang dari sepekan.
Bercak darah terlihat di area rerumputan dekat pintu masuk sebuah sekolah swasta di distrik Praga, Warsaw. Juru bicara Kepolisian Warsaw, Jakub Filipiak, mengatakan pelaku menggunakan “benda berbahaya” untuk menyerang para korban yang sedang menyerahkan berkas di kantor sekolah.
Seperti dilansir dari berbagai sumber, korban terdiri dari dua remaja berusia 17 tahun dan seorang pemuda berusia 24 tahun. Ketiganya dilaporkan dalam kondisi stabil dengan luka yang tidak mengancam jiwa, sementara pelaku perempuan telah diamankan polisi.
Insiden tersebut terjadi ketika kepolisian Polandia mengumumkan telah menahan 76 orang dan memeriksa hampir 50 ribu sekolah di seluruh negeri untuk mencegah potensi kekerasan susulan.
Rangkaian serangan ini bermula pada Rabu sebelumnya, ketika seorang siswa berusia 19 tahun melukai sembilan orang menggunakan senjata tajam di wilayah Mazovia. Sehari kemudian, seorang remaja berusia 15 tahun menewaskan seorang penjaga sekolah dan melukai dua orang lainnya di wilayah yang sama.
Rentetan kejadian tersebut memicu kekhawatiran publik Polandia. Kekerasan di lingkungan pendidikan seperti ini disebut sebagai fenomena yang relatif baru di negara Eropa tersebut.
Pemerintah menyatakan belum menemukan bukti adanya koordinasi antarpelaku maupun tantangan daring yang memicu serangan. Namun, peneliti senior International Centre for Counterterrorism di Den Haag, Kacper Rekawek, menilai rangkaian insiden itu mengindikasikan kemungkinan pola peniru atau copycat scenario yang mengadopsi estetika terorisme global.
Sebelumnya, ancaman penyerangan massal juga memicu kepanikan di grup percakapan orang tua murid. Situasi tersebut menyebabkan 59 sekolah meliburkan kegiatan belajar-mengajar pada Jumat.
Menteri Dalam Negeri Polandia, Marcin Kierwinski, menegaskan keselamatan pelajar menjadi prioritas pemerintah. Dalam razia pada Jumat, polisi turut menyita sejumlah pisau lipat dan mercon dari tas siswa.
“Tidak ada kompromi di sini. Keselamatan para pemuda adalah hal yang paling utama,” tegas Kierwinski dikutip dari berbagai sumber, Minggu (11/10/2026).
Sementara itu, Perdana Menteri Polandia Donald Tusk berjanji mempercepat pengesahan rancangan undang-undang untuk memblokir konten berbahaya di ruang digital. Langkah tersebut ditujukan untuk mencegah penyiaran langsung atau live streaming aksi kejahatan pada masa mendatang.







