Saturday, October 10, 2026
Metapos
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri

Operasi Katarak Kini Lebih Modern, Mengapa Pasien Masih Takut?

Taufik Hidayat by Taufik Hidayat
10 October 2026
in Lifestyle & Health
Operasi Katarak Kini Lebih Modern, Mengapa Pasien Masih Takut?

Metapos.id, Jakarta — Katarak masih menjadi persoalan kesehatan mata yang berkontribusi besar terhadap angka kebutaan di Indonesia. Meski program operasi gratis telah digelar oleh berbagai pihak, tidak semua pasien bersedia menjalani prosedur tersebut.

Data nasional menunjukkan, sekitar 3 persen penduduk berusia di atas 50 tahun mengalami kebutaan. Dari jumlah tersebut, sekitar 80 persen kasus kebutaan disebabkan oleh katarak.

BACA JUGA

Musik dan Kesehatan Mental: 5 Cara Memahami Perasaan

Makan Bersama Orangtua Bantu Kembangkan Kecerdasan dan Emosi Anak

Sejumlah program bantuan telah dihadirkan untuk mempermudah masyarakat mendapatkan penanganan medis tanpa harus mengeluarkan biaya operasi. Namun, kemudahan akses tersebut belum sepenuhnya mendorong pasien untuk menjalani pengobatan.

Di balik keengganan itu, terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi keputusan pasien. Selain minimnya pemahaman tentang penanganan katarak, rasa cemas terhadap operasi dan bayangan kehilangan penglihatan menjadi hambatan tersendiri.

Ketakutan akan Kebutaan Permanen

Senior Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Eye Hospitals and Clinics, Prof. Dr. dr. Tjahjono D. Gondhowiardjo, SpM(K), PhD, mengungkapkan bahwa sebagian pasien masih merasa khawatir ketika dokter menyarankan operasi katarak.

Saat kemampuan melihat semakin terganggu, tindakan operasi yang direkomendasikan sebagai solusi justru dapat menimbulkan ketakutan. Sebagian pasien bahkan membayangkan bahwa operasi berpotensi menyebabkan kebutaan permanen.

“Pada saat seseorang mengalami sakit, terutama penglihatannya mulai menurun, waktu dikatakan jalan keluarnya adalah operasi, apa respon mereka? ‘Bisa buta, enggak?’ Padahal mereka sudah dalam status buta sebetulnya,” terangnya dalam konferensi pers kick off Bakti Katarak 101 – JEC Eye Hospitals & Clinics di RS Mata JEC Kedoya, dikutip dari berbagai sumber, Sabtu (10/10/2026).

Tjahjono menilai, kecemasan tersebut dapat membuat pasien mengabaikan kebutuhan untuk mendapatkan penanganan. Keinginan untuk menghindari risiko yang dibayangkan justru mengalahkan harapan untuk memulihkan penglihatan.

“Ketakutan itu lebih besar daripada keinginan untuk bisa melihat,” lanjut dr. Tjahjono.

Situasi ini menjadi pekerjaan rumah bagi tenaga kesehatan. Penjelasan mengenai kondisi mata, prosedur operasi, serta perkembangan teknologi medis diperlukan agar pasien dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tepat.

Cerita Lama Membentuk Persepsi Menakutkan

Faktor lain yang membuat pasien ragu adalah pengalaman mengenai operasi katarak pada masa lalu. Prosedur yang dahulu membutuhkan sayatan besar dan masa pemulihan lebih lama meninggalkan kesan tersendiri di tengah masyarakat.

“Ketakutan itu bukan tidak beralasan, karena teknologi yang dahulu, dengan luka sayatan yang besar, kemudian cerita bahwa operasinya itu menakutkan,” jelas dr. Tjahjono.

Pada masa tersebut, pasien juga harus mengikuti sejumlah pembatasan aktivitas setelah menjalani operasi. Larangan membungkuk, mengangkat barang, hingga tidur dalam posisi tertentu membuat proses pemulihan dianggap merepotkan.

“Lalu setelah operasi dahulu dibilang tidak boleh nunduk, tidak boleh ngangkat barang, dan tidak boleh tidur miring dan sebagainya, itu membuat suatu perasaan bahwa begitu menyulitkannya,” ucap dr. Tjahjono.

Cerita mengenai prosedur dan pantangan tersebut kemudian berkembang menjadi kekhawatiran yang diwariskan dari satu orang ke orang lain. Akibatnya, sebagian calon pasien masih memandang operasi katarak sebagai tindakan yang berisiko tinggi dan membutuhkan pemulihan panjang.

Teknologi Modern Mempermudah Operasi

Seiring kemajuan dunia kedokteran, metode operasi katarak mengalami perubahan. Salah satu teknik yang kini digunakan adalah phacoemulsification, yaitu prosedur yang memanfaatkan gelombang ultrasonik untuk memecah lensa mata yang mengalami katarak sebelum dikeluarkan.

Tjahjono menjelaskan, teknik tersebut memungkinkan dokter melakukan tindakan melalui sayatan berukuran kecil, sekitar 2,3 milimeter.

“Insisinya hanya sekitar 2,3 milimeter ya. Dan setelah itu katarak tersebut diemulsifikasikan, dijadikan cairan ya, larutan. Dengan tekanan gelombang ultrasonik yang ditembakkan,” papar dr. Tjahjono.

Sayatan yang relatif kecil memungkinkan operasi dilakukan tanpa jahitan pada banyak kasus. Metode ini juga membantu mengurangi perubahan bentuk kornea yang dapat memicu astigmatisme atau mata silinder.

Dibandingkan dengan teknik lama, pemulihan penglihatan setelah operasi modern dapat berlangsung lebih cepat. Meski demikian, hasil dan kecepatan pemulihan setiap pasien dapat berbeda, bergantung pada kondisi mata serta gangguan kesehatan lain yang menyertainya.

“Jadi kalau dengan teknologi yang kecil, hari ini dioperasi, besok pun sudah bisa lihat. Sehingga sangat berbeda,” pungkas dr. Tjahjono.

Kemajuan teknologi tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diketahui masyarakat agar tidak terus terjebak dalam ketakutan terhadap prosedur operasi pada masa lalu. Pasien yang mengalami gejala katarak sebaiknya berkonsultasi dengan dokter mata untuk mengetahui kondisi penglihatan dan pilihan penanganan yang sesuai.

Tags: JEC Eye HospitalsKatarak GratisKesehatan MataMetapos.idOperasi katarakPengobatan KatarakPenyebab KebutaanPhacoemulsification
Previous Post

Mau Main Gokart di Jakarta? Cek Lokasi dan Harga Tiketnya

Next Post

Makan Bersama Orangtua Bantu Kembangkan Kecerdasan dan Emosi Anak

Related Posts

Musik dan Kesehatan Mental: 5 Cara Memahami Perasaan
Lifestyle & Health

Musik dan Kesehatan Mental: 5 Cara Memahami Perasaan

10 October 2026
Makan Bersama Orangtua Bantu Kembangkan Kecerdasan dan Emosi Anak
Lifestyle & Health

Makan Bersama Orangtua Bantu Kembangkan Kecerdasan dan Emosi Anak

10 October 2026
Mau Main Gokart di Jakarta? Cek Lokasi dan Harga Tiketnya
Lifestyle & Health

Mau Main Gokart di Jakarta? Cek Lokasi dan Harga Tiketnya

10 October 2026
Doctor X Hadirkan Kim Ji Won sebagai Dokter Antikorupsi
Lifestyle & Health

Doctor X Hadirkan Kim Ji Won sebagai Dokter Antikorupsi

9 October 2026
Crazy Rich Asians Kembali, Kisahnya Berlanjut dalam Serial HBO
Lifestyle & Health

Crazy Rich Asians Kembali, Kisahnya Berlanjut dalam Serial HBO

9 October 2026
Pemula Wajib Tahu, Begini Cara Menentukan Posisi Blush On
Lifestyle & Health

Pemula Wajib Tahu, Begini Cara Menentukan Posisi Blush On

9 October 2026
Next Post
Makan Bersama Orangtua Bantu Kembangkan Kecerdasan dan Emosi Anak

Makan Bersama Orangtua Bantu Kembangkan Kecerdasan dan Emosi Anak

  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini