Metapos.id, Jakarta – Jahmiyah merupakan salah satu kelompok teologis yang muncul dalam sejarah awal pemikiran Islam. Nama ini masih kerap dibahas dalam kajian sejarah akidah dan ilmu kalam, terutama terkait persoalan sifat-sifat Allah, Al-Qur’an, qadar, dan hakikat iman.
Nama Jahmiyah dinisbatkan kepada Jahm bin Shafwan, seorang tokoh yang hidup pada masa akhir pemerintahan Bani Umayyah. Ia diketahui memiliki hubungan dengan wilayah Khurasan, khususnya Marw, dan diperkirakan wafat pada 128 H atau sekitar 745–746 M.
Namun, pembahasan mengenai Jahm bin Shafwan perlu dilakukan secara hati-hati. Sumber sejarah mengenai dirinya relatif terbatas. Sejumlah ajaran yang kemudian dinisbatkan kepada Jahmiyah juga diketahui melalui tulisan para ulama dan penulis dari generasi setelahnya.
Karena itu, tidak semua doktrin yang dalam literatur klasik disebut sebagai ajaran Jahmiyah dapat secara langsung dipastikan sebagai pemikiran Jahm bin Shafwan sendiri.
Mengapa Jahmiyah Menjadi Perhatian?
Pemikiran yang dinisbatkan kepada Jahmiyah banyak berkaitan dengan persoalan mendasar dalam akidah Islam, seperti sifat-sifat Allah, kalam Allah dan Al-Qur’an, qadar, serta hakikat iman.
Salah satu persoalan yang paling terkenal adalah pandangan mengenai sifat-sifat Allah. Dalam literatur teologis klasik, Jahmiyah kerap dikaitkan dengan penekanan terhadap tanzih, yaitu menyucikan Allah dari segala bentuk keserupaan dengan makhluk.
Dalam kritik Ahlus Sunnah, pendekatan tersebut dinilai berlebihan hingga mengarah kepada ta’thil, yaitu meniadakan atau menolak sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan dalam wahyu.
Ahlus Sunnah sendiri menetapkan nama dan sifat Allah berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk dan tanpa menolak sifat yang telah ditetapkan oleh wahyu.
Prinsip tersebut antara lain didasarkan pada firman Allah dalam QS. Asy-Syura ayat 11:
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Ayat tersebut menjadi dasar bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk, tetapi pada saat yang sama tetap memiliki nama dan sifat yang sempurna.
Perdebatan tentang Al-Qur’an dan Qadar
Jahmiyah juga kerap dikaitkan dengan salah satu perdebatan teologis besar dalam sejarah Islam, yaitu mengenai kalam Allah dan Al-Qur’an.
Dalam tradisi Sunni, Al-Qur’an dipahami sebagai kalam Allah dan bukan makhluk. Persoalan mengenai status Al-Qur’an kemudian menjadi salah satu tema penting dalam perkembangan ilmu kalam.
Selain itu, Jahmiyah sering dikaitkan dengan kecenderungan Jabariyah dalam persoalan qadar. Pandangan tersebut sangat menekankan kekuasaan dan kehendak Allah sehingga manusia dipandang tidak memiliki kebebasan hakiki dalam melakukan perbuatannya.
Ahlus Sunnah mengambil posisi berbeda. Manusia tetap memiliki kehendak dan kemampuan, tetapi kehendak tersebut tidak berada di luar kehendak Allah. Dengan demikian, manusia tetap bertanggung jawab atas pilihan dan perbuatannya.
Bagaimana Pandangan Jahmiyah tentang Iman?
Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah hakikat iman.
Dalam literatur klasik, Jahmiyah dikenal dengan pandangan yang sangat menekankan ma’rifah atau pengetahuan dalam hati tentang Allah. Dengan konsep tersebut, amal perbuatan tidak ditempatkan sebagai bagian dari hakikat iman sebagaimana formulasi Ahlus Sunnah.
Sementara itu, Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa iman bukan sekadar pengetahuan dalam hati. Iman berkaitan dengan keyakinan hati, ucapan, dan amal, meskipun terdapat perbedaan perincian formulasi di antara mazhab-mazhab Sunni.
Mengapa Dikritik oleh Ahlus Sunnah?
Jika dirangkum dari perspektif Ahlus Sunnah, terdapat beberapa persoalan utama yang menjadi kritik terhadap pemikiran yang dinisbatkan kepada Jahmiyah.
Pertama, persoalan penafian sifat-sifat Allah. Ahlus Sunnah menetapkan sifat Allah berdasarkan wahyu, sedangkan Jahmiyah dikritik karena dianggap melakukan ta’thil.
Kedua, kecenderungan Jabariyah dalam masalah qadar. Pandangan tersebut dinilai terlalu menekankan kehendak Allah hingga mengurangi peran kehendak dan pilihan manusia.
Ketiga, konsep iman yang dinilai terlalu sempit, terutama ketika iman dipahami sebatas pengetahuan atau keyakinan dalam hati.
Keempat, penggunaan penalaran teologis yang dalam kritik sebagian ulama Sunni dinilai menghasilkan pemahaman berbeda dari Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman generasi awal Islam.
Meski demikian, pembahasan mengenai Jahmiyah tetap perlu memperhatikan sumber sejarah yang digunakan. Sebab, sebagian besar gambaran mengenai pemikiran Jahm bin Shafwan diketahui melalui sumber-sumber yang ditulis oleh pihak lain pada masa setelahnya.
Pelajaran dari Sejarah Jahmiyah
Sejarah Jahmiyah memberikan pelajaran bahwa pembahasan akidah membutuhkan pemahaman yang cermat terhadap dalil dan konteks sejarah.
Dalam masalah sifat Allah, umat Islam tidak boleh menyerupakan Allah dengan makhluk. Namun, pada saat yang sama, usaha menyucikan Allah tidak boleh menjadi alasan untuk menolak sifat yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya.
Hal serupa berlaku dalam persoalan qadar. Manusia tidak memiliki kebebasan mutlak yang terlepas dari kehendak Allah. Namun, manusia juga bukan makhluk yang sama sekali tidak memiliki kehendak dan tanggung jawab.
Perdebatan mengenai persoalan tersebut kemudian menjadi bagian dari perkembangan ilmu kalam dan melahirkan berbagai tradisi pemikiran teologi dalam sejarah Islam.
Jahmiyah dan Perkembangan Teologi Sunni
Dalam perkembangan berikutnya, muncul berbagai tradisi teologi Sunni yang memberikan penjelasan sistematis mengenai persoalan akidah dengan menggunakan argumentasi rasional sekaligus dalil-dalil keagamaan.
Asy’ariyah dinisbatkan kepada Abu al-Hasan al-Asy’ari (w. 324 H/935 M). Ia awalnya berada dalam lingkungan pemikiran Mu’tazilah, kemudian meninggalkan Mu’tazilah dan mengembangkan pendekatan teologi yang berupaya membela akidah Sunni dengan menggunakan argumentasi rasional.
Sementara itu, Maturidiyah dinisbatkan kepada Abu Mansur al-Maturidi (w. 333 H/944 M) yang berkembang di wilayah Samarkand. Pemikirannya kemudian menjadi salah satu corak utama teologi Sunni, terutama di lingkungan yang berkaitan dengan mazhab Hanafi.
Keduanya kemudian berkembang menjadi dua tradisi teologi Sunni yang sangat berpengaruh, terutama dalam menjelaskan persoalan sifat Allah, hubungan akal dan wahyu, iman, serta qadar.
Kesimpulan
Jahmiyah merupakan salah satu kelompok teologis yang memiliki tempat penting dalam sejarah perkembangan ilmu kalam Islam.
Pemikiran yang dinisbatkan kepadanya banyak dikaitkan dengan persoalan sifat Allah, kalam Allah dan Al-Qur’an, qadar, serta hakikat iman.
Meski tidak berkembang menjadi mazhab besar seperti Asy’ariyah atau Maturidiyah, pemikiran yang dinisbatkan kepada Jahmiyah tetap menjadi bagian penting dalam berbagai perdebatan akidah Islam.
Pembahasan mengenai Jahmiyah juga perlu dilakukan secara hati-hati karena sumber mengenai Jahm bin Shafwan relatif terbatas. Karena itu, memahami sejarah kelompok ini bukan hanya berkaitan dengan mengetahui perbedaan pandangan akidah, tetapi juga memahami bagaimana perdebatan mengenai wahyu, akal, sifat Allah, kehendak manusia, dan iman berkembang dalam sejarah pemikiran Islam.







