Metapos.id,Jakarta – Di Balik Ketegasan Seorang Suami: Ada Kasih Sayang yang Dicontohkan Nabi ﷺ
Ada kalanya seorang laki-laki dianggap “bucin” hanya karena memberikan perhatian kepada istrinya: membantu pekerjaan rumah, berbicara dengan lembut, bercanda, atau menunjukkan kasih sayang.
Padahal, kasih sayang kepada istri bukan tanda hilangnya kewibawaan seorang suami. Rasulullah ﷺ adalah sosok yang mulia dan kuat, tetapi beliau juga dikenal memperlakukan keluarganya dengan penuh kelembutan.
‘Aisyah رضي الله عنها pernah ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah ﷺ ketika berada di rumah. Ia menjawab:
كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ
“Beliau biasa membantu pekerjaan keluarganya. Apabila waktu salat tiba, beliau pergi untuk melaksanakan salat.”
(HR. al-Bukhari no. 6039)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa membantu pekerjaan keluarga bukanlah sesuatu yang mengurangi kemuliaan atau kewibawaan seorang laki-laki. Justru, Rasulullah ﷺ sendiri memberikan teladan dalam memperlakukan keluarga dengan penuh perhatian.
Dalam perkara sederhana pun, Rasulullah ﷺ menunjukkan kedekatan dan kasih sayang kepada istrinya. ‘Aisyah رضي الله عنها menceritakan bahwa ia pernah minum dari sebuah wadah, kemudian Rasulullah ﷺ mengambil wadah tersebut dan minum dari bagian yang sama dengan tempat ‘Aisyah meletakkan mulutnya.
(HR. Muslim no. 300)
Kasih sayang dalam rumah tangga tidak selalu ditunjukkan melalui sesuatu yang besar. Perhatian kecil, kelembutan dalam berbicara, membantu pasangan, dan menjaga perasaannya merupakan bagian dari akhlak yang baik dalam kehidupan rumah tangga.
Islam tidak mengajarkan seorang suami untuk bersikap keras kepada keluarganya hanya agar terlihat berwibawa. Kewibawaan tidak harus dibangun dengan sikap dingin, kasar, atau menjaga jarak dari istri.
Teladan Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa ketegasan dan kelembutan dapat berjalan bersama. Seorang suami dapat tegas dalam perkara yang benar, tetapi tetap lembut dan penuh kasih sayang kepada keluarganya.
Hal tersebut sejalan dengan prinsip mu‘āsyarah bil-ma‘rūf, yaitu memperlakukan pasangan dengan cara yang baik sebagaimana Allah perintahkan dalam Al-Qur’an.
Karena itu, jangan buru-buru menyebut seorang suami “bucin” hanya karena ia menyayangi istrinya, membantu pekerjaan rumah, atau menunjukkan perhatian. Bisa jadi, yang terlihat sebagai “bucin” justru merupakan bentuk kasih sayang yang sesuai dengan teladan Rasulullah ﷺ.
Laki-laki yang kuat bukanlah yang harus selalu keras kepada istrinya. Kekuatan seorang suami juga terlihat dari kemampuannya menjaga ketegasan dalam kebenaran sekaligus menghadirkan kasih sayang, kelembutan, dan kebaikan di dalam keluarganya.







