Metapos.id, Jakarta — Gigitan anjing perlu segera mendapat perhatian, terutama jika hewan tersebut diduga berisiko membawa rabies. Virus ini dapat menular melalui gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi.
Rabies merupakan infeksi virus yang menyerang sistem saraf. Penyakit tersebut masih ditemukan di berbagai wilayah dunia, khususnya Asia dan Afrika.
Penanganan setelah terpapar menjadi langkah penting untuk mencegah virus berkembang hingga mencapai otak. Karena itu, seseorang yang mengalami gigitan atau cakaran hewan berisiko sebaiknya tidak menunda pemeriksaan.
Cuci Luka Setelah Digigit
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah membersihkan luka menggunakan sabun dan air mengalir.
Tindakan tersebut membantu mengurangi risiko virus yang mungkin berada pada luka. Setelah itu, area yang terluka dapat dibersihkan menggunakan antiseptik.
Hindari menggosok atau menyikat bagian yang terluka. Tindakan tersebut justru dapat memperparah kerusakan jaringan.
Selain penanganan awal di rumah, luka tetap perlu diperiksa oleh tenaga kesehatan. Dokter akan menilai kondisi luka dan menentukan langkah pencegahan yang diperlukan.
Jangan Menunggu untuk Mendapatkan Vaksin
Setelah luka dibersihkan, segera datangi fasilitas kesehatan. Tenaga medis akan menentukan apakah vaksin rabies diperlukan berdasarkan jenis paparan dan kondisi orang yang terkena gigitan.
Vaksin pascapaparan diberikan untuk membantu tubuh membentuk perlindungan terhadap virus rabies. Pemberiannya sebaiknya dilakukan sesegera mungkin setelah seseorang terpapar.
Jadi, tidak perlu menunggu hingga 24 jam untuk mendapatkan penanganan. Semakin cepat mendapatkan pemeriksaan, semakin cepat pula tindakan pencegahan dapat didilakukan.
Orang yang belum pernah mendapatkan vaksin rabies biasanya menjalani beberapa kali pemberian vaksin sesuai jadwal tenaga kesehatan.
Sementara itu, seseorang yang sebelumnya sudah pernah menerima vaksin rabies dapat memperoleh jadwal pemberian yang berbeda. Seluruh rangkaian vaksin tetap perlu diikuti sesuai anjuran tenaga medis.
HRIG Bisa Diberikan pada Kasus Tertentu
Selain vaksin, tenaga kesehatan dapat mempertimbangkan pemberian human rabies immune globulin atau HRIG pada paparan tertentu.
HRIG memberikan perlindungan sementara di sekitar lokasi luka. Perlindungan tersebut membantu tubuh selama proses pembentukan antibodi setelah vaksinasi.
Obat ini biasanya diberikan di sekitar area gigitan. Namun, orang yang sebelumnya sudah mendapatkan vaksin rabies umumnya tidak membutuhkan HRIG.
Keputusan mengenai pemberian HRIG tetap berada pada tenaga kesehatan setelah mempertimbangkan jenis dan tingkat paparan.
Gejala Rabies Tidak Selalu Muncul Langsung
Seseorang yang terpapar rabies tidak selalu langsung mengalami gejala. Masa inkubasi virus dapat berbeda-beda.
Pada tahap awal, gejalanya bisa menyerupai gangguan kesehatan lain. Keluhan yang dapat muncul antara lain demam, sakit kepala, nyeri otot, dan tubuh terasa lelah.
Di sekitar bekas gigitan, seseorang juga dapat merasakan kesemutan, nyeri, atau mati rasa.
Jika infeksi berkembang, gejalanya dapat menjadi lebih berat. Kondisi tersebut dapat ditandai dengan kegelisahan, agitasi, perilaku agresif, kejang, halusinasi, dan kedutan otot.
Gejala lain yang dapat muncul meliputi detak jantung dan napas yang lebih cepat, produksi air liur berlebihan, kelumpuhan wajah, serta delirium.
Rabies juga dapat menyebabkan hidrofobia atau rasa takut terhadap air. Selain itu, penderita dapat mengalami aerofobia, yaitu rasa takut terhadap embusan atau aliran udara di wajah.
Mengingat rabies dapat berakibat fatal setelah gejala muncul, jangan menunggu tanda-tanda penyakit untuk mencari pertolongan.
Jika mengalami gigitan atau cakaran dari hewan yang berpotensi membawa rabies, segera bersihkan luka dan periksakan diri ke fasilitas kesehatan. Penanganan sedini mungkin penting untuk mencegah penyakit berkembang.







