Monday, September 14, 2026
Metapos
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri

Saudi Terdesak Houthi, Mengapa Trump Pilih Mundur?

Taufik Hidayat by Taufik Hidayat
14 September 2026
in Internasional
Saudi Terdesak Houthi, Mengapa Trump Pilih Mundur?

Metapos.id, Jakarta — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak permintaan Arab Saudi agar Washington melancarkan serangan militer secara langsung terhadap kelompok Houthi di Yaman.

Permintaan tersebut disampaikan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) melalui percakapan telepon dengan Trump pada Kamis (10/9/2026).

BACA JUGA

Putin, Xi dan Presiden Iran Bertemu di India

Feri Terbakar di Filipina, 5 Tewas

Mengutip laporan Axios yang dilansir Anadolu, MBS awalnya menghubungi Trump untuk menyampaikan perkembangan situasi di lapangan. Salah satunya terkait mundurnya pasukan Yaman yang menjadi sekutu Arab Saudi.

Beberapa jam kemudian, MBS kembali menghubungi Trump untuk menyampaikan permintaan resmi agar AS turun tangan secara militer menghadapi Houthi.

Ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi meningkat setelah serangkaian serangan terjadi di sejumlah wilayah sipil di bagian selatan Arab Saudi pada awal pekan. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan 73 orang mengalami luka-luka.

Situasi ini terjadi setelah kondisi relatif tenang selama beberapa tahun menyusul gencatan senjata yang mulai berlaku pada April 2022.

Dalam perkembangan terbaru, Houthi dilaporkan berhasil menguasai Mokha serta sejumlah wilayah pesisir di sekitarnya. Kawasan tersebut berada dekat Selat Bab El-Mandeb, salah satu jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Menurut pejabat AS yang dikutip ABC News, hasil penilaian pada Jumat menunjukkan bahwa Houthi telah menguasai wilayah pantai barat Yaman. Meski demikian, pasukan pemerintah Yaman bersama kelompok milisi sekutunya masih memberikan perlawanan.

Houthi disebut menyadari bahwa upaya mengganggu pelayaran di Selat Bab El-Mandeb berpotensi memicu respons militer yang lebih besar dari Arab Saudi, AS, maupun negara lain.

Kelompok tersebut sebelumnya beberapa kali menyatakan bahwa Selat Bab El-Mandeb tetap terbuka bagi kapal-kapal komersial. Namun, serangan terhadap kapal yang memiliki keterkaitan dengan Arab Saudi meningkatkan risiko keamanan bagi pelayaran internasional di kawasan tersebut.

Alasan Trump Menolak Permintaan Arab Saudi

Trump memilih tidak memenuhi permintaan MBS karena pemerintah AS ingin memusatkan perhatian pada Iran dan keamanan di Selat Hormuz.

Selain itu, Washington berusaha mencegah keterlibatan langsung dalam konflik baru di Yaman. AS juga ingin memberikan kesempatan kepada negara-negara mitranya di kawasan untuk mengambil peran lebih besar dalam menghadapi persoalan keamanan regional.

“Amerika Serikat berfokus melindungi kepentingan inti keamanan nasional kami—seperti menjamin kebebasan navigasi di Laut Merah—sembari memberdayakan mitra-mitra regional kami untuk mengambil peran utama dalam menangani dan menyelesaikan tantangan keamanan kawasan,” ujar seorang pejabat senior pemerintahan Trump saat ditanya mengenai pembicaraan telepon presiden dengan bin Salman, dikutip dari berbagai sumber,  Senin (14/9/26).

“Kami terus menjalin komunikasi dengan Arab Saudi dan Pemerintah Republik Yaman terkait stabilitas kawasan.”

Meski keputusan tersebut telah diambil, dua pejabat AS mengatakan kepada ABC News bahwa kebijakan Trump masih dapat berubah.

Perubahan sikap itu kemungkinan terjadi apabila ancaman terhadap jalur pelayaran di Laut Merah meningkat secara signifikan.

Tags: Amerika SerikatArab SaudiDonald TrumpHouthi YamanKonflik timur tengahMetapos.idMohammed bin SalmanSelat Bab El-Mandeb
Previous Post

Hari Ketujuh, SAR Perluas Pencarian 8 Penumpang Speed Boat Hilang di Selat Sunda

Next Post

Pramono: Jakarta Siap Berikan Dukungan Penuh untuk FIFA ASEAN Cup 2026

Related Posts

Putin, Xi Jinping, dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dijadwalkan bertemu di India dalam momentum KTT BRICS di tengah konflik global.
Internasional

Putin, Xi dan Presiden Iran Bertemu di India

11 September 2026
Kapal feri M/V June Aster terbakar di perairan Palawan, Filipina. Lima orang tewas dan puluhan lainnya masih dalam pencarian.
Internasional

Feri Terbakar di Filipina, 5 Tewas

10 September 2026
Pakar meragukan klaim Donald Trump bahwa perang AS-Iran akan berakhir setelah pemilu sela Amerika Serikat pada November 2026.
Internasional

Pakar Ragukan Perang Iran Berakhir Usai Pemilu AS

10 September 2026
Kasus Ebola di Kongo mencapai 6.757 dengan 3.267 kematian sejak awal wabah. Inggris menyalurkan bantuan untuk memperkuat penanganan.
Internasional

Wabah Ebola Kongo Capai 3.267 Kematian

10 September 2026
Sebanyak 110 warga negara asing yang menjadi buron Interpol diketahui bersembunyi di Korea Selatan, dengan kasus penipuan menjadi pelanggaran terbanyak.
Internasional

110 Buron Interpol Terdeteksi Bersembunyi di Korea Selatan

9 September 2026
Bandara Soekarno-Hatta ditutup sementara akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Penerbangan dialihkan ke enam bandara alternatif.
Internasional

Menara Eiffel Mendadak Tutup, Ini Penyebabnya

8 September 2026
Next Post
Pramono: Jakarta Siap Berikan Dukungan Penuh untuk FIFA ASEAN Cup 2026

Pramono: Jakarta Siap Berikan Dukungan Penuh untuk FIFA ASEAN Cup 2026

  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini