Metapos.id, Jakarta – Posisi Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA semakin terancam setelah Presiden UEFA Aleksander Ceferin mendesaknya untuk mempertimbangkan mundur dari jabatannya.
Ceferin menilai Infantino menghadapi penolakan yang semakin luas akibat polemik rencana investasi swasta dalam turnamen FIFA.
Jika tetap bertahan, Infantino diperkirakan akan menghadapi perlawanan dalam Kongres FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027.
Meski namanya kerap disebut sebagai sosok yang berpotensi menggantikan Infantino, Ceferin menegaskan dirinya tidak berminat mencalonkan diri sebagai Presiden FIFA.
“Saya tidak tertarik karena dua alasan. Alasan pertama adalah saya mencintai UEFA dan saya senang bekerja di sini. Sudah saatnya untuk menikmati hidup juga. Poin kedua adalah kredibilitas saya jauh, jauh lebih tinggi jika saya tidak tertarik dengan posisi tersebut,” ujar Ceferin yang dikutip dari ESPN pada Senin (24/08/2026).
Ceferin kemudian menilai Infantino telah kehilangan legitimasi di berbagai elemen sepak bola.
Menurutnya, terdapat dua kemungkinan yang dapat ditempuh Infantino dalam menghadapi situasi tersebut.
“Salah satu pilihannya adalah dia menyadari bahwa dia tidak memiliki dukungan, dan itu bukan hanya dukungan politik dari mereka yang memilih, tetapi dukungan politik dari komunitas sepak bola, dukungan politik dari para penggemar, dukungan politik dari para pemain, mantan pemain, dan pelatih,” kata Ceferin.
Pilihan lainnya adalah Infantino tetap maju dalam pemilihan Presiden FIFA pada Maret 2027 dengan menghadapi kandidat lain.
“Dan pilihan kedua adalah dia maju ke pemilihan umum pada bulan Maret, tetapi dalam hal itu, saya pikir dia akan memiliki kandidat yang melawannya. Saya belum tahu siapa,” lanjutnya.
Tekanan terhadap Infantino meningkat setelah UEFA, CONCACAF, dan AFC dilaporkan mempertimbangkan mosi tidak percaya terhadapnya.
Federasi sepak bola dari Britania Raya dan Irlandia juga disebut telah mencabut dukungan kepada pria asal Swiss tersebut.
Polemik ini bermula dari rencana investasi swasta untuk turnamen FIFA yang memicu perlawanan dari sejumlah pihak di lingkungan sepak bola internasional.







