Metapos.id, Jakarta – Pemerintah mengantisipasi potensi fenomena El Nino ekstrem yang diperkirakan memicu musim kemarau lebih panjang dan kering di Indonesia.
Untuk meredam dampaknya, pemerintah memperkuat cadangan pangan nasional guna menjaga stabilitas pasokan dan harga.
Berdasarkan kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional, El Nino dengan intensitas kuat berpotensi terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole positif mulai April mendatang. Kombinasi kedua fenomena ini dinilai dapat meningkatkan risiko gangguan produksi pangan akibat kondisi cuaca ekstrem.
Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional memastikan ketersediaan cadangan pangan tetap terjaga.
Sejumlah komoditas strategis, seperti beras, jagung, minyak goreng, gula, hingga daging, telah disiapkan sebagai langkah antisipatif jika terjadi gangguan pasokan.
Saat ini, stok beras yang dikelola Perum Bulog tercatat mencapai sekitar 4,08 juta ton, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, ketersediaan komoditas lain, seperti jagung, gula, dan minyak goreng, juga dalam kondisi mencukupi.
Pemerintah menegaskan bahwa ketahanan pangan menjadi faktor kunci dalam menghadapi ancaman krisis global. Oleh karena itu, peningkatan produksi dalam negeri terus didorong guna mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus memperkuat kemandirian pangan nasional.
Sebagai tindak lanjut, penyaluran cadangan pangan akan dilakukan melalui berbagai program, antara lain bantuan pangan dan Gerakan Pangan Murah. Langkah ini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat serta menstabilkan harga di tengah potensi tekanan akibat perubahan iklim.














