Metapos.id, Jakarta – Puasa Ramadan menempati posisi yang sangat mulia dalam ajaran Islam. Ibadah ini tidak hanya menjadi kewajiban bagi setiap muslim yang memenuhi syarat, tetapi juga menjadi amalan istimewa yang menjanjikan ganjaran pahala yang sangat besar bagi mereka yang menjalankannya dengan keikhlasan dan sesuai tuntunan syariat.
Puasa tidak sekadar menahan diri dari makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, tetapi juga menjadi sarana latihan spiritual untuk mengendalikan hawa nafsu, membentuk kesabaran, serta memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT.
Melalui puasa, seorang muslim diajarkan untuk menahan diri dari berbagai syahwat duniawi semata-mata karena ketaatan kepada-Nya.
Keutamaan puasa Ramadan ditegaskan dalam hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa setiap amal kebaikan manusia akan dilipatgandakan pahalanya.
Namun, puasa memiliki keistimewaan tersendiri karena balasannya langsung diberikan oleh Allah SWT tanpa batas perhitungan. Orang yang berpuasa juga dijanjikan dua kebahagiaan, yakni kebahagiaan saat berbuka puasa dan kebahagiaan ketika kelak bertemu dengan Allah di akhirat.
Kemuliaan puasa juga terlihat dari kedudukannya di sisi Allah, di mana bau mulut orang yang berpuasa bahkan dinilai lebih harum daripada minyak kasturi. Hal ini menjadi simbol betapa agungnya nilai ibadah puasa dalam pandangan Ilahi.
Ulama besar Ibnu Rajab Al Hambali dalam kitab Lathaif Al-Ma’arif menjelaskan bahwa pahala puasa di bulan Ramadan jauh lebih besar dibandingkan puasa di bulan lainnya. Hal ini disebabkan karena Ramadan merupakan bulan yang dimuliakan Allah SWT, dan puasa di dalamnya adalah ibadah wajib yang menjadi bagian dari rukun Islam serta fondasi utama dalam menegakkan agama.
Dengan kemuliaan Ramadan dan kedudukan puasa yang begitu agung, setiap muslim yang melaksanakannya dengan iman dan keikhlasan akan mendapatkan limpahan pahala, keberkahan hidup, serta kemuliaan di dunia maupun di akhirat.













