Metapos.id, Jakarta – Setiap menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, banyak orang kembali mempertanyakan alasan tanggalnya tidak pernah sama dari tahun ke tahun jika dilihat pada kalender Masehi. Berbeda dengan tahun baru pada 1 Januari, penentuan Imlek mengikuti sistem kalender lunisolar Tiongkok.
Kalender lunisolar menggabungkan perhitungan peredaran bulan dan matahari. Sistem inilah yang membuat Imlek selalu jatuh pada rentang waktu tertentu, umumnya antara 21 Januari hingga 20 Februari, dan jarang sekali bertepatan pada tanggal yang sama setiap tahunnya.
Kalender Lunisolar sebagai Dasar Penentuan
Dalam kalender Tiongkok, satu bulan lunar berlangsung sekitar 29 hingga 30 hari. Jika dikalikan 12 bulan, total hari dalam setahun hanya sekitar 354 hari. Jumlah ini lebih pendek sekitar 11 hari dibandingkan kalender matahari atau kalender Gregorian yang digunakan secara global.
Untuk menyesuaikan kembali dengan siklus musim, kalender Imlek menambahkan satu bulan kabisat setiap dua sampai tiga tahun. Penyesuaian inilah yang menyebabkan tanggal Tahun Baru Imlek terus bergeser jika dibandingkan dengan kalender Masehi.
Perhitungan Astronomi Imlek
Secara astronomi, Tahun Baru Imlek ditentukan berdasarkan bulan baru kedua setelah titik balik matahari musim dingin. Dengan patokan ini, perayaan Imlek memiliki batas waktu paling awal pada 21 Januari dan paling akhir pada 20 Februari.
Sebagai gambaran, pada tahun 2025 Imlek diperingati pada 29 Januari, sementara pada 2026 perayaannya bergeser menjadi 17 Februari. Pergeseran tersebut merupakan hasil perhitungan yang konsisten dan telah digunakan selama ribuan tahun.
Jejak Sejarah dan Nilai Budaya
Tradisi Tahun Baru Imlek telah berlangsung lebih dari 3.000 tahun sejak era Dinasti Shang. Pada masa awal, perayaan ini erat kaitannya dengan siklus pertanian dan ritual penghormatan kepada leluhur menjelang pergantian tahun lunar.
Seiring waktu, Imlek juga diperkaya dengan berbagai cerita rakyat, salah satunya legenda Nian. Makhluk mitologis ini diyakini muncul di akhir tahun dan mengganggu masyarakat. Untuk mengusirnya, orang-orang menggunakan suara keras, cahaya terang, serta warna merah, yang hingga kini menjadi ciri khas perayaan Imlek.
Pengaruh Dinasti dan Ajaran Kepercayaan
Pada masa Dinasti Han, hari pertama bulan lunar secara resmi ditetapkan sebagai awal tahun. Tradisi ini kemudian semakin mengakar melalui pengaruh Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme, yang menekankan pentingnya keharmonisan keluarga, penghormatan kepada leluhur, dan pembaruan diri.
Karena itu, Imlek tidak hanya dimaknai sebagai pergantian tahun, tetapi juga sebagai momentum refleksi dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Tradisi yang Beragam di Berbagai Wilayah
Meski memiliki dasar yang sama, perayaan Imlek menunjukkan ragam tradisi di berbagai daerah. Di wilayah Tiongkok bagian utara, pangsit menjadi simbol kemakmuran. Sementara di bagian selatan, kue beras ketan atau niangao melambangkan peningkatan rezeki dan keberuntungan.
Di negara lain, termasuk Indonesia, tradisi Imlek berkembang secara lebih inklusif. Pembagian angpao, pertunjukan barongsai, serta jamuan keluarga tetap menjadi bagian penting perayaan dan berpadu dengan budaya lokal.
Dengan sistem kalender yang khas serta sejarah panjang yang sarat makna, wajar jika Tahun Baru Imlek selalu jatuh pada tanggal yang berbeda setiap tahunnya, namun tetap konsisten sebagai simbol awal baru dan harapan.












