Metapos.id, Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa ia mengonsumsi aspirin harian dengan dosis lebih tinggi dibandingkan yang direkomendasikan oleh dokter. Pernyataan tersebut disampaikannya dalam wawancara dengan The Wall Street Journal dan langsung memicu perhatian publik terkait dampaknya bagi kesehatan.
Trump yang kini berusia 79 tahun mengatakan bahwa ia rutin mengonsumsi aspirin dosis 325 miligram setiap hari sebagai langkah pencegahan penyakit jantung. Dosis tersebut berada di batas atas penggunaan aspirin untuk tujuan pengenceran darah.
“Mereka bilang aspirin membantu mengencerkan darah, dan saya tidak ingin darah kental mengalir ke jantung saya,” ujar Trump. Ia menambahkan bahwa dokter sebenarnya menyarankan dosis yang lebih kecil, namun ia memilih tetap menggunakan dosis lebih tinggi karena telah melakukannya selama sekitar 25 tahun.
Menurut dokter kepresidenan Sean Barbabella, penggunaan aspirin Trump memang ditujukan untuk pencegahan kardiovaskular. Namun, Trump juga mengakui bahwa efek samping yang ia rasakan adalah mudah munculnya memar di tubuhnya.
Perhatian terhadap kondisi kesehatan Trump meningkat dalam beberapa bulan terakhir, terutama setelah terlihat adanya memar di tangannya. Gedung Putih sebelumnya menjelaskan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan kebiasaan berjabat tangan serta konsumsi aspirin. Pada Juli lalu, Trump juga didiagnosis mengalami insufisiensi vena kronis, kondisi umum yang memengaruhi aliran darah di pembuluh vena.
Selain itu, pada Oktober, Trump dilaporkan menjalani pemeriksaan pemindaian tubuh. Meski awalnya disebut MRI, Trump kemudian menyebut bahwa ia hanya menjalani pemindaian CT sebagai tindakan pencegahan.
Aspirin sendiri merupakan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) yang memiliki efek pengencer darah. Obat ini kerap digunakan untuk meredakan nyeri, demam, serta peradangan, dan dalam dosis rendah sering diresepkan untuk mencegah serangan jantung dan stroke dengan menghambat pembentukan bekuan darah.
Namun, penggunaan aspirin tidak lepas dari risiko. Menurut Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS), efek samping yang umum meliputi gangguan pencernaan ringan dan peningkatan risiko perdarahan. Jika digunakan dalam jangka panjang atau dosis tinggi, aspirin juga dapat memicu tukak lambung atau perdarahan saluran cerna.
Satuan Tugas Layanan Pencegahan AS (USPSTF) merekomendasikan dosis rendah, sekitar 81 miligram per hari, bagi orang dewasa berusia 40–59 tahun yang berisiko penyakit kardiovaskular. Lembaga tersebut menegaskan bahwa manfaat aspirin menurun seiring bertambahnya usia, sementara risiko perdarahan justru meningkat, sehingga konsumsi aspirin umumnya disarankan dihentikan sekitar usia 75 tahun.
Situs kesehatan Healthline menyebutkan bahwa dosis harian aspirin untuk pencegahan penyakit jantung biasanya berkisar antara 81 hingga 325 miligram, tergantung kondisi pasien. Namun, konsumsi berlebihan dapat menyebabkan keracunan aspirin, baik secara akut maupun kronis.
Keracunan aspirin dapat menimbulkan berbagai gejala, mulai dari mual, muntah, nyeri perut, telinga berdenging, gangguan pernapasan, hingga kejang. Dalam kasus berat, overdosis aspirin dapat berakibat fatal dalam waktu singkat akibat kegagalan organ dan gangguan keseimbangan asam dalam tubuh.
Para ahli menekankan bahwa penggunaan aspirin sebaiknya selalu berada di bawah pengawasan medis, terutama bagi kelompok usia lanjut, guna meminimalkan risiko efek samping serius.














