Metapos.id, Jakarta – Pemerintah Venezuela dilaporkan menahan sejumlah warga negara Amerika Serikat menyusul meningkatnya tekanan militer dan ekonomi yang dilakukan Washington sejak era pemerintahan Presiden Donald Trump.
Laporan The New York Times pada Rabu (31/12/2025), mengutip seorang pejabat Amerika Serikat, menyebutkan bahwa mereka yang ditahan mencakup tiga orang berkewarganegaraan ganda Venezuela–AS serta dua warga negara AS lainnya yang tidak diketahui memiliki hubungan langsung dengan Venezuela.
Pejabat tersebut menjelaskan bahwa meski sebagian dari para tahanan diduga menghadapi tuntutan pidana yang sah, pemerintah Amerika Serikat tengah mengkaji kemungkinan untuk secara resmi menetapkan setidaknya dua orang sebagai individu yang ditahan secara tidak semestinya.
Hingga saat ini, Departemen Luar Negeri AS, Kedutaan Besar AS di Kolombia yang menangani urusan Venezuela, serta Kementerian Komunikasi Venezuela belum memberikan pernyataan resmi terkait penahanan tersebut.
Penahanan warga Amerika ini terjadi di tengah meningkatnya aktivitas militer AS di kawasan Karibia dan Pasifik Timur sejak September 2025. Washington menyatakan operasi tersebut ditujukan untuk memberantas jaringan perdagangan narkoba.
Seperti dilansir Anadolu melalui Antara, setidaknya 105 orang dilaporkan tewas dalam 29 serangan yang dilakukan dalam rangka operasi tersebut.
Pekan lalu, Presiden Donald Trump mengungkapkan bahwa Amerika Serikat telah melancarkan serangan terhadap sebuah fasilitas besar yang digunakan sebagai titik keberangkatan kapal. Namun, ia tidak menjelaskan lembaga AS yang terlibat. CNN kemudian melaporkan bahwa operasi tersebut dilakukan oleh Badan Intelijen Pusat (CIA).
Selain operasi militer, tekanan AS terhadap Venezuela juga mencakup penyitaan kapal, pemblokiran kapal tanker minyak, serta peningkatan kehadiran militer di sekitar perairan Venezuela. Pemerintah Venezuela menanggapi langkah-langkah tersebut dengan kecaman keras dan menyebutnya sebagai bentuk pembajakan internasional.













